Keinginan dan Kenyataan

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Adakah di antara teman-teman yang memperhatikan? Mana di antara sekian banyak keinginan kita yang berbuah jadi kenyataan?

Perlu berapa lama sebuah keinginan menjadi kenyataan? Adakah pengorbanan untuk mencapainya? Seberapa senang saat itu terwujud? Apakah saat terjadi, itu membuat orang lain juga senang, atau sebaliknya? Apa efek pencapaian itu terhadap kualitas diri kita, bertambah baik atau sebaliknya?

Tentunya pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul. Baik secara sadar maupun tanpa sengaja. Seseorang yang mencari kualitas hidup yang lebih baik, tentu sering melatarbelakangi setiap keinginannya sesuai jawaban pertanyaan tadi.

Namun seseorang yang hidupnya tanpa perencanaan, keinginan, mimpi atau visi-misi, tentu tak mau pusing dengan segala permasalahan tadi. Yang penting hatinya senang, walau itu bertolak belakang dengan keinginan masyarakat, bahkan keluarganya.

Waktu Terwujudnya Sebuah Keinginan

Dalam hal berapa lama sebuah keinginan tercapai, tentunya itu tergantung dari jenis keinginan itu sendiri. Seorang ingin baju, ya kalau punya uang tinggal beli. Seorang mau mau minum, ya kalau di rumah sudah ada tinggal teguk.

Tapi kalau inginnya mobil seharga 300juta, sedangkan di tabungan adanya 200juta, maka tentu harus menunda dulu keinginan itu. Sampai kemudian uangnya terkumpul kalau mau cash, atau bisa langsung beli jika kredit. Kredit pun tentunya tergantung kebijakan leasing, harus dinilai apa dan bagaimana calon konsumennya.

Contoh di atas berhubungan dengan benda tak hidup. Akan lebih rumit lagi jika dikaitkan dengan keinginan atas sesama hidup. Keinginan untuk dicinta, disayangi oleh pasangan, suami/istri ataupun pacar misalnya.

Hal itu tentu berkaitan dengan bagaimana rasa dan jiwa bekerja di antara sesama itu. Seorang yang rupawan tentunya akan banyak lawan jenis yang mengaguminya. Tapi apakah rasa kagum itu berbuah keinginan untuk memiliki, dan kemudian apakah ada respon positif dari Sang Rupawan itu? Tentu itu soal yang lain lagi.

Pengorbanan untuk Mencapai Keinginan

Keinginan yang sederhana, akan mudah kita menggapainya. Namun sesuatu yang bahkan orang lain pun sama menginginkannya, tentu perlu pengorbanan lebih untuk memenangkannya.

Kadang terjadi, apa yang kita anggap biasa aja dan sudah kita miliki, tidak kita perhatikan. Padahal itu adalah sesuatu yang sangat berharga, dan sangat diinginkan oleh orang lain. Karena untuk mendapatkannya pun sebenarnya perlu banyak pengorbanan.

Sebut saja contohnya, seorang yang Allah jadikan ia bertubuh tinggi. Bagi dirinya, karena itu sudah ia terima tanpa susah payah, berproses selama ia tumbuh dan berkembang, sesuai dengan DNA dari orang tuanya, maka biasa saja perasaannya itu.

Tapi bagi orang lain di luar dirinya: yang berbadan sedang/pendek, yang bercita-citakan jadi pebasket profesional, yang mengagumi dan menginginkan seorang lawan jenis bertubuh lebih tinggi dari dirinya, tentu itu siksaan yang amat berat. Jika keinginan yang tak sesuai kenyataan itu dianggap sebagai siksaan. Karena untuk mencapainya, berapa banyak pengorbanan yang harus ia persiapkan.

(Visited 9 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *