Memaknai Kejadian

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tahu, mengetahui, pengetahuan.

Kita seringkali terbiasa. Bahkan terlalu biasa. Untuk mendengar yang sudah umum didengar. Melihat yang terbiasa dilihat. Sehingga, jika tidak sengaja memikirkannya. Kita tak peduli lagi untuk apa ia ada.

Perhatikanlah lagi keseharianmu. Buka lagi memorimu. Dan tanya baik-baik hati itu. Agar ia menjawab dengan jujur. Bila perlu, ia menjawab sekaligus mengoreksi saat itu pun tak apa. Tentang apa keinginanmu yang paling kau impikan. Dalam hidup ini?

Ataukah engkau tak punya keinginan? Atau cita-cita? Walau hanya untukmu sendiri? Jangan-jangan kau hanya pura-pura sabar. Seolah menerima keputusan apa pun yang Tuhan tentukan atasmu. Di atas cita-citamu yang setinggi langit itu. Yang belum tercapai itu.

Itu sebenarnya baik. Kalau tidak dikatakan sangat baik. Jika kau berprinsip untuk menerima apa pun keputusan itu. Karena dengannya, engkau bisa tetap tersenyum. Walau pahitnya hidup kerap kau rasakan. Dan tentunya, Tuhan pun akan sangat senang. Jika kau pun senang dengan apa yang IA berikan.

Tapi. Cobalah kau sadari kembali. Benarkah kau sudah memiliki syarat itu? Syarat untuk bisa dikatakan baik. Saat peristiwa buruk pun kau tampakkan senyuman?

Jangan-jangan kau kelihatan baik hanya di permukaan saja. Oleh sebab kau melewati kegagalan itu tanpa usaha keras. Tanpa melewati perjuangan yang semestinya. Tanpa syariat doa untuk memintanya?

Jika kau sudah berniat baik. Prosesnya pun dilalui dengan baik. Doa nya pun kau lakukan dengan benar. Dengan ilmu yang benar. Lantas kesuksesan itu belum juga muncul. Maka masih bisa dianggap pantas. Jika kegagalan yang nampak itu kau anggap ujian. Atau cobaan. Atau apa pun kau menyebutnya.

Begitu pun saat kesuksesan usahamu itu kau raih. Kau berhak untuk bersuka cita. Bergembira ria. Dan berucap syukur alhamdulillah.

Tapi harap diingat. Kau tidak mungkin mencapai itu semua. Hanya berdasar pada kemampuanmu semata. Tapi ada ribuan proses makhluk hidup dan mati di dunia. Yang membantumu mewujudkan keinginan itu. Yang suksesnya hidupmu pun. Bertalian pula, dengan sukses dan gagalnya makhluk lain di semesta ini.

Karena, tak ada apa pun yang tak bertalian. Dari semua wujud ciptaanNYA ini. Maka janganlah kau sombong saat kau berhasil. Dan jangan pula lah bersedih hati saat sengsara itu menemanimu dengan sabarnya.

(Visited 31 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *