Napak Tilas Kehidupan, Saat Liburan Sekolah yang Mendebarkan

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Mau kemana Tong?” Dari sebrang jalan seorang lelaki dewasa bertanya.

“Ini terminal Baranang Siang ya Pak?” Si Anak balik bertanya. Anak itu masih sekolah Kelas 4 SD – – lebih tepatnya baru naik kelas 5. Ia turun dari mobil bis Leuwiliang-Baranang Siang.

Si Bapak yang bertanya sepertinya heran juga melihat sang anak. Jika melihat kondisi dan suasana saat itu. Seorang anak seumuran itu turun dari bis – – Sendirian.

“Iya, ini Terminal Baranang Siang. Mau ke mana? Tanyanya lagi.

“Mau ke Surade-Jampang Kulon. Masih ada gak ya?”

“Jam segini dah gak ada Tong, harus ke Sukabumi dulu.”

“Baik Pak. Terima kasih”

Begitu kira-kira percakapan saat itu. Anak itu pun naik kendaraan lagi ke Sukabumi. Lebih tepatnya ke Terminal Warung Kondang. Terminal yang ada saat itu – – Sekitar tahun 1992.

Mungkin pembaca bertanya juga dalam hati. Mau apa anak sekecil itu sendirian melakukan perjalanan dari Bogor ke Surade-Jampang Kulon? – – sebuah daerah di Sukabumi. Satu Daerah paling selatan Kabupaten terluas di Jawa Barat saat ini (2020).

Pembaca akan lebih heran lagi. Karena sebenarnya perjalanan awal anak itu ternyata bukan dari Bogor, tapi dari Jakarta.

Sebelum membahas alasannya kenapa, mari kita ikuti dulu cerita dalam rangka apa ia di Jakarta.

Sekitar bulan Juni ia berada di Ibukota. Menjelang akhir liburan kenaikan kelas. Maka di awal cerita disebutkan anak itu di usia kelas 4 SD baru naik kelas 5.

Sebelum pulang sebenarnya ia dalam posisi gamang. Mau pulang sendiri jelas beresiko. Tapi kalau tidak pulang, hari Senin sudah mau masuk sekolah. Tapi keluarga yang ditinggali itu merencanakan, akan mengantar ia pulang saat hari Seninnya – – bukan hari minggu.

Bila kita berfikir jaman sekarang sebenarnya tidak masalah. 1 hari nambah libur toh masih bisa ijin ke guru. Tapi tidak dengan anak itu. Ia tahu saat itu sulit menyampaikan kabar ke Sekolah, karena belum adanya telpon apalagi HP di tahun itu.

Perkara orang tuanya ia tidak khawatirkan, tentu orang tuanya mempercayakan hal itu ke Saudara jauhnya yang membawa ia berlibur ke Jakarta. (Saudara jauh di sini artinya bukan keluarga inti, tapi terikat hubungan baik sehingga 2 keluarga sering berinteraksi).

Tapi ada 1 alasan kuat yang begitu mengganggu pikirannya. Ia takut libur tanpa ijin lebih dulu itu, akan mempengaruhi penilaian guru kelasnya. Apalagi ia sendiri tak tau siapa wali kelasnya sekarang – – mengingat ia baru saja naik kelas.

Kenapa ia takut penilaian guru akan berkurang? Jelas saja demikian, karena ternyata anak itu selalu ranking 1 peringkat di kelasnya. Dari kelas 1, sampai terakhir naik dari kelas 4 ke kelas 5 itu. Ia takut liburnya itu akan mempengaruhi penilaian, sehingga berpotensi menjadikan ia sulit mempertahankan prestasinya di semester depan. Segala hal yang berpotensi mempengaruhi penilain, sekecil apa pun mau ia hindari.

Catatan: Dan kekuatan keyakinan anak itu memang beralasan. Sebab di tahun-tahun selanjutnya, ia bisa memertahankan prestasi tetap juara 1 sampai kelas 6. Di tingkat SLTP pun ia masih juara 1 dari kelas 1-3. Bahkan bukan hanya juara 1, ia berhasil menjadi juara umum di 4 semester terakhir sebelum ia lulus, terhalang 1 semester. Juara umum artinya juara dari seluruh murid- – juara dari juara kelas. Di sekolah MTsnya itu Tiap angkatan terdiri dari 6 kelas, jadi total ada 18 kelas saat itu. Dengan lebih dari 900an murid.

Kembali ke cerita, akhirnya anak itu pun bertekad untuk pulang, biar pun sendiri. Toh ia sudah mencoba meminta diantar pulang hari Minggu tetap tidak dikasih saudara jauhnya itu. Maka biar pun Jarak Jakarta-Jampang Kulon lebih dari 200Km, harus pula naik kendaraan beberapa kali – – Ia sudah mantapkan hati.

Tapi ada 1 kendala yang menjadi penghalang. Bagaimana dengan ongkosnya?

Ternyata semesta sepertinya mendukung keinginan Si Anak. Di hari Sabtu, 1 hari sebelum pulang ia diajak berkunjung ke daerah Bintaro. Tempat pamannya tinggal bersama keluarga dan bekerja di sana. Kebetulan saat itu Sang Paman menitipkan uang buat bayar obat ke kampung. Alhasil, sudah lengkaplah persiapan si anak.

Termasuk ketakutan ia akan nyasar, sudah diyakinkannya dalam hati. Ia merasa sudah ada pengalaman. Walapun sedikit. Karena sebelumnya ia pernah juga berkunjung ke tempat itu. Dan ia tahu mobil apa saja yang harus dinaiki.

Mungkin yang luput dari pertimbangannya adalah: usia kecilnya, ditambah jaman yang masih kurang bersahabat saat itu – – bagaiaman kalau di perjalanan ada yang menculik? Tapi di usia yang belum dewasa, sepertinya ia tidak berfikir sampai ke sana.

Maka di hari H, hari minggu saat itu, ia pun pulang. Di saat kondisi rumah Jakarta itu sedang sepi, bisa jadi karena sedang pada tidur siang. Anak itu pun diam-diam meninggalkan rumah.

Rumah yang ia tinggalkan itu berada di daerah Pangkalan Jati, Limo-Depok, berbatasan dengan Jakarta. Belakang UPN, atau belakang Pasar pondok Labu/SMA 34/SMP 85, Jakarta.

Dan tahukah pembaca? Ternyata SMA 34 itu juga yang jadi tempat Si Anak belajar kelak, selepas lulus MTs. Sebuah SMA unggulan DKI kini.

Ia dari rumah jalan kaki ke Pasar Pondok Labu. Kemudian naik angkot D02 arah Ciputat. Lalu turun di Terminal bus Lebak Bulus untuk kemudian naik Koantas Bima 509 jurusan Kampung Rambutan.

Di sini mulai terjadi kesalahan fatal. Yang kalau Tuhan tidak menunjukkan jalan, tentu ia akan nyasar entah ke mana. Yang ia ingat saat berkunjung sebelumnya itu, dari Kampung Rambutan naik Bus lagi ke Terminal Baranangsiang-Bogor.

Ingatannya betul, tapi ia tidak hati-hati. Maklum di usia nya belum ada pengalaman untuk memikirkan detail. Ia lihat di depan bus itu ada tulisan besar, Jakarta – Bogor. Tapi ia tidak perhatikan tulisan kecil di bawahnya – – Leuwi Liang. Dan Si Anak ternyata naik bus itu.

Di perjalanan Si Anak mulai heran. Biasanya bus itu akan lewat jalan tol kalau ke Baranangsiang. Ini kok jalan raya umum biasa. Hatinya bertanya-tanya tapi tidak memberanikan nanya juga saat itu. Pikirnya: kenap bus itu lewat jalan umum biasa, mungkin karena masih mencari penumpang. Maka ia pun tidur. Ia titip pesan ke kondektur, kalau sudah sampai dibangunkan.

Ia mulai kaget saat kondektur membangunkan dan bilang sudah sampai. Ia lihat kanan-kiri kok tidak ada suasana yang biasa ia rasakan. Bus-bus yang banyak itu mana? Terminalnya mana? Kemudian ia tanya juga kondektur itu:

“Bang emang sudah sampai? Kok gak ada terminalnya? Ini Baranangsiang kan?

“Lha, ini bukan Baranangsiang Dik, ini Leuwiliang.” Jawab Si Kondektur.

“Tapi kok tadi tulisan depan mobil jurusan Bogor?”

“Ya, Leuwiliang ini memang adanya di Kabupaten Bogor. Tapi Bogornya Bogor Barat. Kamu memang mau ke Baranangsiang?”

“Ia Bang.”

“Begini aja, kamu naik kendaraan lagi yang itu. Nanti langsung sampai Baranangsiang.”

“Baik, makasih Bang.” Ucap Si Anak.

Si Anak pun naik lagi kendaraan yang ditunjukkan kondektor tadi. Dan, 1 kejadian besar penculikan lewat. Artinya, kalau saja kondektur itu, atau orang yang mendengar percakapan itu ada yang berniat tidak baik. Tentu akan sangat mudah membawa anak sekecil itu ke mana pun. Untuk dijadikan pengemis seperti cerita-cerita seram masa kini. Atau untuk ia jadikan anak sendiri, atau bahkan menjualnya. Ternyata Allah punya rencana lain. Buktinya kejadian itu tidak ada.

Sesampainya di Baranangsiang-Bogor, ceritanya seperti yang tertulis di awal paragrad tadi. Tapi cerita tidak sampai di sana. Karena di awal tadi pembaca tentu masih ingat: ada percakapan yang menunjukkan jam segitu sudah tidak ada bus yang ke Surade langsung. Artinya itu sudah sore. Resiko tentu akan makin besar.

Dan ternyata benar. Belum sampai terminal Warung Kondang – Sukabumi, saat itu sekitar jam 10an malam, bangun tidur Si Anak dengar teriakan – – masih bisa tidur juga ia dengan kondisi itu 🙂

“Surade..!! Surade..!! Surade..!!”

Si anak langsung teriak pada Sang Sopir. “Sebentar Bang, jangan maju dulu” Kondisi memang mini bus itu sedang berhenti menurunkan penumpang. Dan kondektor yang teriak “Surade” itu ada di mobil sampingnya.

Bade ka Surade Kang? Ieu tos bade dugi ka terminal WarungKondang? (Mau ke Surade Bang? Ini sudah mau sampai ke Terminal Warung Kondang)?” Tanya si anak.

Muhun Jang, ka Suradekeun. Ieu mobil terakhir. Ujang bade kaditu?” (Ia Dik, ke arah Surade. Ini mobil terakhir. Adik mau ke sana?)

Muhun Kang.” (“Ia Bang”) Jawab Si Anak sambil ucapkan terima kasih ke sopir dan turun berganti mobil. Mobil yang ia tumpangi dari Bogor tadi melanjutkan ke terminal untuk kemudian istirahat di sana.

Terminal Warungkondang dulu itu memang agak masuk lagi ke dalam. Dan dua mobil tadi bertemu di persimpangan. Pertigaan tempat dilewatinya mobil yang mau dan akan pergi dari terminal.

Takdir Tuhan kembali berjalan tepat di waktu yang ditentukan. Kalau saja Si Anak tidak terbangun, tentu ia akan ikut mobil ke dalam terminal, maka tentu tidak akan bertemu dengan mobil terakhir ke Surade itu.

Artinya, akan percuma ia pulang sendirian mengalahkan rasa takut. Karena kalau ia tertahan di terminal malam itu, ia tidak akan bisa pulang malam itu juga, ia tidak bisa sampai rumah pagi hari. Berarti akan telat juga ia masuk sekolah.

Singkat cerita, sampai juga ia di Cimahi. Sebuah pertigaan mengarah ke arah rumah Si Anak. Berjarak 2,6 Km lagi untuk bisa sampai. Malam itu sekitar jam 2 dini hari, tentu tidak bisa ia pulang langsung saat itu.

Maka ia lihat sekeliling, cari rumah yang masih ada orangnya. Sudah tidak ada seorang pun. Ia berjalan ke arah selatan, kemudian belok kiri masuk ke perkampungan. Di salah satu rumah ia dengar suara orang bercakap. Lantas ia ketuk pintu.

Punten Kang ngawagel. Tiasa ngiring ngawengi? (Maaf Pak mengganggu. Bisa ikut menginap)?” Tanyanya.

Punten Ujang saha? Ti mana sareng bade ka mana?” (Maaf Adik siapa? Dari mana dan mau ke mana?” Tanya balik sang tuan rumah.

Abdi putrana Aa Asy’ari, Bantar Peuteuy. Abdi neme uih ti Jakarta, bade ka bumikeun kawengian. (Saya anaknya Aa Asy’ari, Bantar Peuteuy. Saya baru pulang dari Jakarta, mau ke rumah kemaleman)”. Jawab Si Anak.

Ooh, putrana Aa. Muhun manga Jang. Eta meni wengi pisan atuh, heg ludeungan alit-alit uih nyalira. (Ooh, anaknya Aa. Ia silahkan Dik. Kok malem banget pulangnya, berani lagi kecil-kecil pulang sendirian)” jawab yang punya rumah dengan ramah.

Muhun hatur nuhun, Kang” Jawab Si Anak.

Paginya setelah subuh, anak itu pun pamit untuk pulang. Ia naik ojek dan sampai ke rumah sekitar jam 6. Saat ia bayar, baru sadar ada uang yang hilang – – karena ia hitung uang yang dititip sama pemakaian ongkos perjalanan tidak sesuai.

Hilangnya gak banyak, sekitar Rp. 7000an saat itu. Mungkin skitar Rp. 50.000 an kini. Entah hilang sewaktu turun dari mobil atau sewaktu numpang tidur di rumah Cimahi itu. Tapi si anak gak berpikir lebih jauh lagi, karena kesenangannya lebih besar. Rumahnya sudah tampak di depan mata.

“Assalamu’alaikum”

Tidak ada yang menjawab. Sepertinya Ayah-Ibu Si Anak sedang ke luar.

Ia langsung masuk ke rumah. Lantas mandi segera untuk persiapan berangkat sekolah. Sedang ia mandi tiba-tiba terdengar suara.

Eta saha di kamar ibak (Itu siapa di kamar mandi)”

Ieu ujang, Mah (Ini Ujang, Mah)” jawab Si Anak – – Ia suka memakai kata ganti “Ujang”, untuk memanggil dirinya saat bercakap dengan orang tua. Beda lagi saat bercakap dengan orang lain.

Oh Kaka, tos uih geuning, sareng saha? (Oh Kaka, itu sudah pulang, sama siapa? Tanya orang tuanya lagi. Orang tua dan orang sekitarnya biasa memanggil anak itu Kaka. Bukan memanggil nama aslinya.

Nyalira (Sendiri)” Jawab si Anak sambil ke luar kamar mandi. Sudah selesai ia bersih-bersih. Ia salami Ibunya.

“Nyaliraaa..!!!???”.. tertahan teriakan suara Si Ibu saat itu, kaget yang kelewat sangat. Tentu pembaca bisa bayangkan sendiri reaksi Sang Ibu. Dan bagaimana percakapan itu berlanjut bisa kita bayangkan.

Singkat cerita Si Anak pun berangkat sekolah. Terlaksana juga apa yang dia harapkan.

Dan drama kehidupan pun berlanjut, masih seru. Sepulang sekolah belum juga sampai rumah (di pekarangan) Si Anak sudah ditubruk dengan pelukan dan tangisan histeris seorang Ibu. Ternyata ia istri Sang Empunya rumah di Jakarta. Tempat Si Anak berlibur itu. Yang rumahnya ia tinggalkan diam-diam itu.

Si Anak diciumi dan ditangisi lama. Setelah reda baru si Anak tahu apa yang ia tinggalkan di Jakarta.

Ternyata tidak lama setelah Si Anak pergi, tuan rumah langsung sadar. Karena kalau normal gak mungkin Si Anak pergi jauh. Ini di rumah gak ada tentu ada yang gak beres.

Karena saat itu belum ada telpon apalagi HP, maka tuan rumah mencari ke Paman Si Anak di Bintaro yang dikunjungi sehari sebelumnya. Di sana tidak ketemu, akhirnya mereka lapor polisi. Itu pun tidak membuahkan hasil.

Dan seperti di akhir diketahui, Sang Istri Tuan Rumah inisiatif sendiri menyusul ke kampung dan akhirnya bertemu Si Anak.

_ _ _ _ _ _ _

Sampai di sini dulu ceritanya, lain kali disambung lagi dengan cerita yang lain. Dan setelah membaca cerita nyata di atas, mungkin ada sebagian pembaca yang sudah menduga:

Si Anak itu adalah aku 😊

Catatan: Bagi Adik-adik yang membaca cerita nyata ini, jangan sekali-kali mencoba seperti yang saya lakukan di atas (nekad melakukan hal-hal yang berbahaya, walau menurutmu itu hal yang benar dan layak dilakukan). Karena itu sangat beresiko sekali, terlebih untuk kondisi jaman sekarang.

Inti cerita ini adalah sebagai bahan pembelajaran saja, bahwa sekolah itu demikian pentingnya. Jangan kecewakan orang tua kita. Mereka telah mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk supaya kita bisa sekolah.

Jangan sampai kita tidak sungguh-sungguh menjalaninya. Gunakanlah kesempatan menuntut ilmu di sekolah, dengan belajar lebih tekun. Karena masa emas usia itu sulit diulang lagi.

Ingat Adik-adik, apa yang kita perjuangkan saat ini, akan menentukan apa yang akan kita peroleh di masa yang akan datang. Tentunya semua itu atas kehendak Yang Maha Kuasa.

(Visited 262 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *