Tersungging Bukan Tersinggung ๐Ÿ˜Š

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Itu yang terbaca dari bibirku. Tersungging senyuman. Tadi Siang. Kembali dengan seseorang yang baru kukenal.

Yang karena kesamaan waktu dan tempat. Lantas kami bertukar cerita.

Ia bicara apa, kutimpali yang kira-kira pas dengan identitas senyumnya. Hehe. Senyuman seseorang bisa jadi alamat sekarang. Itu bagiku. Setidaknya screening awal.

Seorang wanita terlihat matang secara pribadi. Kesediaan telingaku untuk mendengar. Yang mungkin terasa olehnya dari setiap respon ucapanku. Membuat cerita mengalir darinya begitu saja.

Dari mulai perilaku orang-orang terkini. Yang ia nilai berdasar “sisi positifnya”. Sampai ke urusan rumah tangga tak luput ia ceritakan. Mungkin tanpa sadar juga ia bercerita. Karena aku membumbuinya dengan sesuatu yang membuat ia tertawa.

Dan kujamin ini takkan membuat istriku cemburu. Dalam arti cemburu yang “diungkapkan” ๐Ÿ˜. Istriku takkan mau mengakui kalau ia sedang cemburu. Walau helaan nafasnya mulai memburu.

Cerita tadi itu tak lepas dari masalah dan solusi. Yang dikemas dalam balutan peristiwa terkini. Dan ini takkan membuat siapa pun iri hati. Toh aku dan ia pun kuyakini takkan tergoda diri. Karena masing-masing sudah punya belahan hati.

Wanita matang itu sedang menunggu suaminya. Yang katanya ada kemiripan denganku, dalam hal menyelesaikan perselisihan di antara mereka.

Karena aku mengobati “diam-diaman” saat ada permaslahan keluarga dengan istriku. Cukup dengan memeluknya. Dan itu pula yang dilakan suami wanita matang tadi padanya.

Satu hal yang kami sepakati bersama dalam cerita tadi. Permasalahan hidup itu bisa dibilang hukum alam. Siapa pun tentu akan menghadapinya. Sebagai ujian, atau batu loncatan, untuk menempati level berikutnya.

Aku sempat bercerita. Seringkali kebahagiaan demikian membuncah itu terjadi antara suami istri. Justru di moment sewaktu “baikan” itu terjadi.

Rasanya begitu luar biasa. Antara awalnya tekanan yang tertahan. Kemudian keduanya melepaskan semua ego dalam sebuah pelukan. Itu tak tergambarkan betapa merekahnya rasa cinta dan kasih sayang saat itu.

.Dan itu pun diamini wanita matang itu. Malah dengan menambahkan satu kata/bunyi untuk menggambarkan saat โ€œbaikanโ€ itu terjadi. Yaitu โ€œnyesโ€. Seolah ia mengambarkan betapa nyamannya perasaan saat itu.

Lantas dalam fikiranku tiba-tiba muncul sebentuk perandaian. Bagaiamana jika penyelesaian segala pernak-pernik emosi, dan dendam kesumat antar manusia, dan semua keturuanan sebelum dan sesudahnya itu terselesaikan. Di waktu yang sama.

Surga Dunia macam apalagi yang bisa kamu bayangkan?

(Visited 25 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.