Berpuasa untuk Menjadi Orang Bertakwa

Segala sesuatu ada akhir yang dituju. Ibarat perjalanan, pergi atau pun pulang — itu adalah tujuan. Tentu di tengah jalan ada banyak rintangan yang menghadang. Di sana akan diuji sebesar apa niat untuk mencapai tujuan dari pelaku perjalanan itu. Demikian juga berpuasa. Di dalam Al-Qur’an sudah ditentukan, tujuan dari puasa adalah supaya manusia bertakwa.

Berpuasa yang bagaimana, yang bisa mengantarkan pelakunya sampai menjadi manusia bertakwa?

Tentu bukan puasa sembarang puasa. Bukan puasa hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Bukan puasa di depan orang saja — di saat orang tak ada yang melihat diam-diam makan minum dengan lahapnya. Atau puasa fisik berjalan, tapi amarah tetap diumbar, menghina orang tetap dilakukan, ada orang kelaparan dibiarkan saja. Tentu itu bukan ciri orang yang bertakwa.

“Saya puasa, tapi tadi siang marah-marah. Puasa saya diterima tidak?” Seseorang berusia 45 tahun bertanya pada seorang ustadz.

“Saudara marah kepada siapa?” Sang ustadz balik bertanya.

“Pada karyawan saya, dia tidak masuk kerja. Katanya karena takut Corona, padahal ia karyawan satu-satunya yang menjaga counter ponsel saya”

“Apakah ia sebelumnya rajin bekerja?”

“Iya, dia rajin pada awalnya, sejak Corona ini dia tidak masuk”

“Walaupun marah kamu beralasan, tapi karyawan kamu juga meliburkan diri punya alasan. Mungkin dia takut kena corona, dan karantina sendiri di rumah. Kalau saudara susah kembali dapat karyawan pengganti, kan counternya bisa anda jaga sendiri atau salah satu anggota keluarga.

Perkara apakah marahnya anda menjadikan puasa diterima atau tidaknya, itu adalah hak Allah. Tapi yang pasti kewajiban puasa anda sudah gugur. Mungkin saja puasa anda kurang secara hikmahnya. Tidak menjadikan anda pandai menahan amarah. Sebagai salah satu ciri orang bertakwa”

Melihat percakapan itu, apakah teman-teman punya cerita yang sama? Atau cerita yang berbeda dengan esensi yang sama?

Maukah sahabat semua melakukan sesuatu dengan susah payah tapi Allah tidak menerimanya? Atau tidak meridhainya?

Maukah kita susah payah menahan lapar dan haus hanya membuat badan lemah saja? Tapi hati kita tidak ikut lemah lembut pada sesama? Tidak menjadikan kita manusia bertakwa? Maukah waktu, tenaga dan fikiran kita untuk sesuatu yang sia-sia saja?

(Visited 12 times, 1 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *