Ilmu dan Amal

Ini terkait ilmu dan pengetahuan. Juga pengalaman. Kini sudah bukan perdebatan lagi–penguasaan akan hal itu sudah jadi kebutuhan. Tanpanya kita bisa tertindas. Karena bisa dikerjai oleh mereka yang merasa lebih pintar — dan menggunakan kepintarannya untuk memintari orang lain.

Masa kini, kehati-hatian harus ekstra dijaga. Kalau tidak, kita bisa malu sendiri. Kalau bukan merugi.

Jika pun kita tidak ditindas atau jadi media bullying orang. Kadang apa yang kita lakukan dan respon pun, jadi ajang menampilkan keluguan kita. Atau ketidakmengertian kita.

Seperti yang saya perhatikan beberapa waktu lalu.

Ceritanya begini. Saya baru saja menonton youtube salah satu ulama. Yang sedang booming di Youtube — karena keilmuannya, juga sikapnya yang tidak menyalah-nyalahkan perbedaan. Karena pembahasan di youtube itu sangat bagus, maka saya penasaran ingin membaca komentar penonton lain.

Rata-rata komentarnya positif, dan mendukung apa yang disampaikan ulama itu. Tapi ada satu komentar yang langsung menarik perhatian saya. Isi komentarnya kurang lebih begini: ini channel youtube videonya bagus-bagus. Berisi tentang keislaman yang dibahas secara mendalam. Tapi kok iklannya “porno-porno”? Gak sesuai dengan isi videonya. Tidak sampai disitu, bahkan ditambahkannya pula: tolong admin, ganti iklan yang sesuai, katanya.

Itu kira-kira isi komentarnya. Saya lupa persis bagaimana ia berkomentar — tapi kurang lebih itu intinya.

Bagi pembaca yang sama-sama mengerti. Tentu komentar orang ini lucu. Atau lugu. Tidak hati-hati. Apalah nama yang menggambarkan ketidaktahuannya. Yang berakibat mempermalukan diri. Yang tidak disadarinya.

Sebagaimana kita tahu, iklan di youtube, atau di produk-produk google lainnya. Tentu isi iklannya itu berupa adsense. Dimana isi iklan tertartaget. Dan akan menyesuaikan dengan kebiasaan pemegang device/HP itu. Atau berdasar penelusuran pengguna di google yang menjadi perhatiaannya saat itu.

Jika yang punya HP sering membaca tentang informasi pendidikan, tentu iklan yang disodorkan google tak jauh dari iklan-iklan pendidikan. Bisa dari Bimbel, sekolah, atau universitas yang menyasar calon murid atau member pengguna lainnya.

Artinya iklan google akan berbeda di tiap HP. Di situlah kepintaran penyedia iklan diperlihatkan. Jika iklan berisi info yang dibututuhkan pembaca, maka kemungkinan pembaca untuk mengklik iklannya akan lebih besar. Tentu akan tidak cocok seorang yang hobinya membaca ilmu keagamaan, kemudian disodorkan iklan seputar tempat hiburan malam.

Nah, kembali ke kasus pengomentar youtube tadi. Tentunya kita tidak bisa menyalahkan pengupload video bila iklan berisi hal tak senonoh. Karena kreator tidak menampilkan iklan sendiri. Tapi google yang akan menampilkan iklan sesuai dengan kebiasaan kita dalam menggunakan HP itu. Artinya secara tidak langsung, komentar dia itu tadi menunjukkan seringnya HP itu, dipakai untuk menonton konten-konten pornografi.

Di sinilah ilmu dan amal akan saling berkaitan. Jika tidak punya pengetahuan. Maka di zaman ini kita akan rentan dipermalukan. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh diri kita sendiri.

Coba bayangkan kalau komentar itu dibaca oleh mertua atau guru yang kita hormati. Tentu bisa malu setengah mati.

Masih mending yang baca mertua yang anaknya sudah kita nikahi. Kalau yang baca calon mertua? Bisa-bisa anak gadisnya tak jadi ia beri.

Tepok jidat kan jadinya? Wkwkwk

(Visited 14 times, 1 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *