Mengobati Fikiran yang Tidak Sempat Berfikir

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Kebenaran hakiki tentu harus kita temukan, sekaligus rasakan. Namun pemilik kebenaran sesungguhnya tentu hanyalah Allah. Kita sebgai makhluk, hanya dititipi merasa benar.

Merasa benar di sini, tentu berdasar sudut pandang kita. Sedangkan tiap manusia memiliki proses hidup yang berbeda, apa yang dipelajari dan minat bakat dalam dirinya. Perbedaan itu tentu menghasilkan pandangan yang berbeda juga.

Permasalahnnya sebagian dari kita merasa kebenaran versi kita adalah yang paling benar. Dan di luar itu adalah tidak benar. Yang ekstrim dari sikap itu adalah sudah pada tindakan menyalah-nyalahkan orang lain. Bahkan memusuhinya.

Jika orang/kelompok yang kita persalahkan itu tidak menanggapi, mungkin tidak akan berakibat terlalu fatal. Tapi saat mereka tidak terima, balik menyalahkan, dan balik memusuhi. Maka dari situlah timbul perselisihan, dan kadang berujung peperangan yang menghilangkan nyawa.

Persatuan tercerai. Rasa persaudaraan bubar. Jangankan kemajuan peradaban di masa mendatang tercipta, jangan-jangan peradaban bisa hilang karenanya.

Dalam bentuk video, uraian di atas dijelaskan dengan maksud sama walau dalam kata yang berbeda berikut ini:

(Visited 9 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.