Siapa Yang Sadar?

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Sekarang di antara kita sudah banyak yang faham. Berbuat kebaikan itu bukan tak ada yang mau melakukan. Tapi saat ini, kebaikan terlihat tidak menarik untuk dilakukan orang kebanyakan. Karena kejahatan banyak memberikan diskon, supaya kenikmatannya bisa dirasakan duluan.

Dan itulah sistem keuangan sekarang yang menjadikan materi sebagai alat pemutarnya. Dan penghambanya tak bisa menghindar dari sistem itu. Sebab jika tak melakukan nanti pada ketakutan tak bisa makan. Bahkan kalau makan sudah berlebih, kerakusan akan memintanya untuk menyimpan untuk nanti.

Awalnya menyimpan untuk nanti itu sebatas sampai perkiraan dirinya mati. Lama-lama ditujukan untuk anak cucu sampai turunan ke seribu. Padahal ia tak sadar ada ribuan kisah di depan mata. Yang dirinya serasa paling berjasa pada semua keturunan, ternyata didoakan mati duluan supaya warisan cepat dibagikan.

Ituah sifat materi yang dari dulu sudah disadari, tapi tak juga diimbangi kebaikan hati nurani. Maka kuusulkan konsep Surga Dunia itu, bukan menjadikan materi mati karena uang tak dipakai sebagai alat tukar lagi. Tapi justru menjadikan ia akan makin banyak dan melimpah, bukan karena dimiliki perusahaan atau kelompok sendiri. Tapi karena diolah, dibagikan, dirasakan secara adil oleh seluruh penduduk bumi.

Coba saja kamu bayangkan keserakahan pemilik modal, yang tak ada habis-habisnya itu. Mereka sudah tahu uang yang mereka simpan itu butuh energi. Yang dihasilkan dari perubahan bentuk alam dari satu bentuk ke bentuk lainnya lagi. Tapi jika gunung, hutan, lautan bahkan batas langit mereka ubah juga untuk agar uang mereka makin berseri. Bukankah perubahan itu akan membuat mereka juga cepat mati?

Masalahnya yang dibikin alam mati bukan hanya dirinya saja. Kadang yang tak tahu apa-apa terkena imbasnya juga. Kalau yang berperilaku rakus ini sudah merata di seluruh dunia. Apa tak membuat alam bergoyang, bergelombang dan bergemuruh bersama-sama.

Yang sering kita abaikan itu, banyak yang tak sadar adalah soal kepastian dari keadilan Tuhan. Sudah jelas rumus baku bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan. Kejahatan akan menerima balasan yang sesuai kadar yang sudah dilakukan. Bukan di akhirat saja, di dunia pun sudah banyak yang merasakan.

Mari kita lihat saja bagaimana dunia berekspresi. Siapakah yang berperan dan akan terseleksi. Tentu takkan ada makhluk yang bisa merubah tujuan Sang Khalik. Lha orang kesadaran kita pun belum ada yang benar-benar faham walau sudah ribuan tahun diulik.

Kalau Tuhan memperkenankan, ya di antara kita tentu ada yang bisa menyaksikan keajaiban kehidupan selanjutnya. Kalau sudah dipanggil duluan, ya tinggal menunggu saja waktu dibangkitkan dan penghisabanNYA.

(Visited 13 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.