Suasana Mesjid di Salah Satu Pojok Bintaro

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Senang bisa kembali berbagi cerita kehidupan Mesjid di salah satu pojok kota. Kali ini saya ikut berjamaah di salah satu Mesjid wilayah Bintaro.

Takjub sekaligus khawatir campur aduk dalam hati melihat begitu hidupnya saat shalat Maghrib di sini. Takjub tentunya dengan semangat keagamaan yang tetap tumbuh di saat pandemi. Sekaligus khawatir mengingat pandemi masih memperlihatkan trend kenaikan akhir-akhir ini.

Mesjid yang termasuk ukuran besar, jika melihat skala wilayah dan kepadatan penduduknya. Saat pertama masuk area Mesjid pun marbot dengan ramahnya menyapa, sambil ia meneruskan kegiatannya.

Walau ukuran Mesjid cukup besar, tapi jamaah sampai membludak keluar – – sampai teras. Itu dengan kondisi shaf normal. Tentu akan lebih tidak cukup lagi jika menerapkan standar protokol covid-19, di mana antar jamaah harus menjaga jarak.

Dalam suasana pandemi sampai saat ini, pantauan saya saat ikut berjamaah di berbagai wilayah Jabodetabek: Mesjid-mesjid melakukan kebijakan berbeda dalam hal jaga jarak. Ada yang tetap menerapkan standar protokol kesehatan, tapi ada juga yang tidak. Khusus untuk Mesjid ini, biarpun dalam hal jarak antar jamaah dilakukan seperti sebelum pandemi, tapi di tempat wudhu disediakan sabun cair yang bisa dipencet untuk jamaahnya.

Maka untuk mensiasati keadaan seperti itu (ada yang menerapkan protokol covid ada yang tidak), kemana-mana saya selalu sedia sejadah ini:

Sejadah yang setia menemani kala bepergian

Sebuh sejadah ukuran setengah dari sejadah normal, dilihat dari panjangnya. Cukup untuk sujud, juga telapak tangan jika tidak mau kontak dengan area lainnya. Tak lupa saya pun ke mana-mana selalu mengenakan masker, begitu pun hand sanitizer selalu tersedia. Semua perangkat itu, cukup dimasukkan ke tas kecil yang ringkas untuk dibawa.

Alhamdulillaah dengan tetap menerapkan standar itu, sampai saat ini belum ada tanda-tanda saya kena gejala Covid-19. Entah memang belum terkena, atau mungkin pernah kena tapi statusnya OTG (Orang Tanpa Gejala). Saya tidak tahu, karena saya belum pernah tes Covid-19 sampai saat ini.

Perlengkapan yang selalu saya sediakan itu, minimal bisa berpartisipasi untuk mencegah penularan Covid-19. Ikut berempati dengan teman-teman yang tetap berdiam di rumah, dan tenaga kesehatan yang beberapa sudah menjadi korban.

Terkait anjuran pemerintah untuk tetap berdiam di rumah, seperti digencarkan di awal-awal pandemi, saya mengalah dengan keadaan. Sebab dapur harus tetap ngebul. Cukup dulu awal pandemi saya ikut ngendon di rumah hampir 2 bulan lamanya. Itu pun sudah terasa demikian kuatnya himpitan ekonomi.

Maka tak heran, apa pun yang Tuhan ciptakan di dunia tetap bergerak untuk memertahankan eksistensinya. Agar kehidupan senantiasa berjalan. Dari galaksi, tata surya, sampai sekecil atom pun demikian.

Jika mereka berhenti bergerak tentunya kehidupan pun akan ikut berhenti. Sama seperti manusia, jika tidak ada pergerakan maka sumber kehidupan ikut terhambat – – ekonomi salah satunya.

Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *