Antara Bos dan Karyawan

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bos itu bisa sebagai pemilik usaha. Atau sebagai karyawan juga – – jika posisinya sebagai leader saja, posisinya lebih tinggi dari yang lain.

Bos sebagai pemilik usaha, tentu memiliki pemikiran berbeda dalam hal melihat perusahaan. Ia sebagai pemodal, tentu menginginkan modalnya balik. Perusahaannya menguntungkan secara finansial. Atau bermanfaat untuk menghidupi karyawan, jika orientasi usahanya untuk sosial saja – – namun tak banyak pemodal tipe ini.

Si Bos yang berorientasi keuntungan finansial, tapi hanya pemodal, akan mengangkat orang kepercayaan untuk menjalankan usahanya. Cara dia memotivasi, mengawasi dan mengevaluasi team manajemen pun tentu akan berbeda juga, dengan pemilik modal yang terjun langsung memimpin usahanya.

Di sini karyawan harus paham betul, kondisi psikologis dari bosnya ini. Apa hanya sebagai atasan biasa saja, atau sekaligus sebagai pemilik usaha.

Terlepas dari bagaimana bos memperlakukan anda di kantor, harus disadari secara penuh bahwa anda adalah sebagai karyawan. Dengan SOPnya masing-masing. Hak dan tanggungjawab yang melekat pada anda.

Saat wawancara kerja pun tentunya anda tahu hal itu. Anda setuju untuk menjadi karyawan, berarti sudah menerima apa yang sudah digariskan oleh perusahaan.

Ingat, perusahaan itu organisasi. Yang dibentuk untuk bisa mencapai tujuannya. Yaitu keuntungan financial pada umunnya. Pergerakan semua peserta di dalam lingkup organisasi usaha itu, tentunya difokuskan untuk mencapai tujuan itu.

Semua fungsi memiliki peranan penting dalam sebuah organisasi. Ibarat tubuh, tak dapat ia berfungsi penuh jika tak ada jantung, atau paru-paru, atau ginjal, atau yang lainnya.

Jangan anda merasa paling penting, karena memiliki fungsi sebagai tenaga penjual, misalnya. Anda pikir, jika bukan karena anda maka perusahaan tidak akan punya keuntungan. Karena sebab andalah uang masuk ke perusahaan. Tanpa anda lihat bagaimana akunting mencatat semua transaksi itu. Bagaimana receptionis menerima tamu yang datang. Bagaimana kurir mengantarkan surat tagihan itu.

Harus anda bayangkan juga, mobil mewah itu tidak akan jalan sempurna jika sekecil pentil tidak terpasang di ban itu.

Sebaliknya yang harus anda timbulkan bukan merasa paling pentingnya. Tapi rasa tanggungjawab untuk melaksanakan fungsi penjual itu. Kalau anda tidak berhasil menjual produk yang disediakan perusahaan, maka perusaahaan akan bangkrut. Pada akhirnya anda pun tidak bisa bekerja lagi.

Kalau anda sudah tahu kewajiban itu, maka segala daya upaya anda harus dimaksimalkan. Target itu sebagai petunjuk, yang harus jadi motivasi anda untuk jauh melampauinya. Bukan melirik teman yang tidak mencapai, tapi lihat yang tiap bulan selalu dapat bonus dari perusahaan.

Itu contoh untuk tenaga penjual. Demikian juga untuk fungsi-fungsi lainnya dalam perusahaan. Semua memiliki peranan sama pentingnya. Posisi anda dibentuk karena suatu kebutuhan. Agar organisasi hidup dan berjalan. Maka jalankanlah kewajiban itu. Baru nanti hak anda akan diterima tiap bulan. Gaji yang akan menghidupi keluarga di rumah.

Gaji yang akan makin tinggi diterima, jika semua posisi menjalankan fungsinya dengan baik, dan perushaan bisa tumbuh besar. Dan semakin besar.

(Visited 28 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *