Semut Itu Makan Bukan untuk Sendiri

Sering istri saya mempersiapkan bekal makan. Saat bepergian. Apalagi saat pandemi ini, Jakarta menerapkan aturan tidak boleh makan di tempat – – di warung makan langsung. Walau kini sudah mulai PSBB transisi, kebiasaan itu masih terbawa saat ini.

Bawa makan dari rumah ada banyak keuntungannya. Selain hemat, masakan lebih sehat — yakin karena yang masak istri sendiri, selera juga sudah pada memahami.

Nikmatnya makan tentu ada pada rasa. Secara lahir lidah yang buat mnegecapnya. Kondisi batin juga ikut berperan. Dan di situ kehidupan memperlihatkan keajaibannya.

Hakikatnya, kita sekumpulan atom dengan komposisi tertentu. Makan berupa atom dengan komposisi tertentu. Menggantikan atom sebelumnya yang sudah berubah bentuk. Jadi energi, atau lainnya.

Sore menjelang malam itu nikmat juga saya memasukkan atom ke kumpulan atom tubuh ini. Di pinggiran jalan sebrang Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan. Selesai bersantap rapi-rapi. Plastik sisa bungkus sayuran saya masukkan tempat nasi. Demikian juga tulang-tulang kepala lauk yang tidak termakan.

Saat hendak berdiri, sekilas terlihat makluk kecil beberapa sudah memungut sisa makanan yang sedikit tercecar. Semut hitam dengan ukuran lumayan besar – – dari biasanya yang saya lihat.

Saat berdiri pun ternyata di tempat yang saya duduki ada beberapa semut. Tadinya mereka diam, kemudian berpencar saat tegakkan badan. Entah tadi mereka menghangatkan badan, atau memang tidak bisa beranjak, lubang sarang di bawah tanahnya tehalang – – tak sengaja saya duduki.

Asyik saya memperhatikan semut itu. Sisa nasi yang hanya beberapa butir diangaktnya. Tulang kepala ikan apalagi, bau amisnya itu sepertinya yg mengundang mereka. Tidak pernah saya lihat semut makan sendiran, sampai makanan yang ia temukan itu habis.

Mesti ia buat laporan ke pusat kehidupan sarangnya. Ke teman-temannya, atau ke ratunya. Supaya mereka bisa bekerja sama mengangkut, jika makanan itu berlimpah. Mereka berbagi bersama. Untuk keberlangsungan kehidupan mereka. Dan keturunannya kelak

Satu butir nasi bisa diangkat oleh 1 semut, diarahkan ke lubang sarang. Serpihan tulang juga bisa diangkat oleh 1 semut lain. Karena hanya serpihan yang mental dari tempat makan saat rapi-rapi tadi.

Makin saya perhatikan beberapa semut lain ikut berdatangan. Rupanya sudah ada informan yang buat laporan ke sarang.

Lantas saya teringat tulang kepala ikan di plastik. Sisa yang hendak saya buang. Yang sudah saya masukkan di tempat makan. Tidak terdapat tempat sampah dekat-dekat saya duduk situ.

Saya keluarkan lagi tempat makan itu dari tas. Buka lagi plastiknya, dan keluarkan kepala ikan itu. Sebelum ditaruh di kumpulan semut itu, saya bongkar jadi bagian-bagian kecil. Supaya semut bisa mudah membawanya ke lubang.

Dan benar saja, beberapa potongan yang sudah saya perkecil itu ada yang bisa diangkat oleh 1 semut. Yang masih terlalu besar mereka diamkan dulu.

Luar biasa perasaan saya melihat mereka. Campur aduk, antara rasa takjub keagungan Pencipta, dengan perasaan bahagia karena sudah memberi makan semut. Bagaimana kalau sudah bisa memberikan banyak makan sesama yang kelaparan? Tentu akan lebih campur aduk lagi.

Perasaan saat itu tercampur juga dengan apa yang ada di pikiran beberapa bulan ini. Yang menghantui hampir seluruh manusia di bumi.

Virus Corona tentu lebih kecil dari semut itu. Bahkan lebih kecil dari bakteri. Kasat mata. Dan kumpulan atom juga. Dengan komposisi lebih kecil. Mereka bertahan hidup sama berkembang biak seperti kita. Dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang sederhana. Menduplikasi DNA/RNA, dan memperbanyaknya dengan merakit – -menggunakan apa yang ada di sel manusia. Paru-paru lebih tepatnya. Dan menyebabkan kematian inangnya.

Virus itu tahu perbuatan mereka? Pembunuhan mereka dengan mengorbankan kehidupan yang lain? Semut itu juga tahu mereka harus makan? Siapa yang memberikan mereka perintah? Instingnya sajakah? Rakitan atom-atom itu? Kita juga manusia sama, membunuh hewan dan tumbuhan untuk bisa hidup.

Bahkan bisa mengorbankan manusia yang lain untuk itu, rebutan sumber daya makanan. Atau hanya untuk supaya kelihatan lebih kuat dari yang lain. Lebih mulia dari yang lain. Bukan sekedar untuk supaya bisa hidup.

Masih sadarkah kita akan kebesaran Tuhan?

(Visited 9 times, 1 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *