Bertolak Belakang

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Sebaiknya jangan jadi orang aneh. Beda antara keinginan dengan yang dipraktekkan. Bertolak belakang belakang sebutan lainnya.

Jika ingin hasilnya 7. Maka 3 itu ditambahkan 4. Kalau tetap memaksa diisi dengan 5. Ya pasti salah. Ujian itu gak lulus. Hasilnya zonk.

Kalau anak SD yang belum pandai berhitung. Dan menjawab salah karena masih belajar. Tentu kita maklum.

Yang aneh kan kalau sudah ada di bangku SMA. Artinya sudah lulus ujian akhir tingkat SD. Bahkan SMP. Kemudian ada pertanyaan semudah itu kemudian ia menjawab bukan 4.

Maka ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada anak SMA ini. Sedang melamun, tidak hati-hati, menyepelekan soal, tahu jawabannya tapi tangan entah kenapa salah tulis, tidak cek ulang. Dan lain sebagainya.

Atau kemungkinan terburuk, memang ia belum bisa menghitung. Lha kok bisa jadi anak SMA? Bisa jadi karena guru/sekolah yang meluluskan SD/SMPnya abal-abal. Bisa jadi juga nyogok supaya lulus. Dan banyak kemungkinan lain.

Sebenarnya ini yang mau saya sampaikan.

Sudah tahu kalau rumus menjadi kuat itu bersatu. Ibarat sapu lidi itu. Tapi kenapa masih bergerak sendiri-sendiri?

Sudah tau kalau bisa hidup bersama dalam keharmonisan itu karena ada kesetaraan. Kesejajaran. Tapi masih banyak saja yang menonjolkan kelebihan masing-masing.

Yang tanpa sadar hal itu membuat yang berbeda merasa tak dianggap. Dengan kata lain direndahkan. Seolah tak ada.

Dalam hal SARA lebih tepatnya.

Tujuan menunjukkan kelebihan SARA sendiri itu untuk apa? Untuk kesombongan? Untuk menaikkan moral anggota? Untuk merendahkan golongan lain?

Memang anggapan orang seperti ini, di SARA lain tak ada yang unggul? Tak ada yang lebih baik darinya? Tak ada yang bisa sepertinya? Tak ada pengetahuan seperti yang diketahuinya?

Bersatu itu bukan hanya slogan.

Bersatu itu supaya kuat. Tidak ditindas. Memiliki tujuan yang sama. Membagi tugas dan peran sesuai kelebihan masing-masing. Atau minat masing-masing.

Jadi kelebihan sendiri itu dipakai untuk tujuan bersama. Berada di posisi yang seharusnya. Supaya tujuan itu tercapai. Seperti rencana yang sudah disepakati bersama.

Bukan malah terus berkoar mengunggulkan SARA sendiri. Seolah SARA orang lain ada di bawahnya.

Ingat!!! Semua yang terlihat atau tidak, disadari atau tidak. Itu semua makhluk Tuhan.

SARA itu untuk kebanggan dan keyakinan pribadi. Supaya lebih mendekat pada Tuhan. Tapi tidak untuk beradu paling tinggi dengan SARA lain. Mestinya saling memahami.

Kan beda “cara” bijak menyampaikan kebenaran antara yang merasa “tinggi”. Dengan orang yang merasa setara/sejajar dengan orang lain. Rasa pada penerima pasti beda.

Maka kalau sudah tahu cara seperti itu malah menjauhkan dari sesama yang berSARA lain. Dengan kata lain menjauhkan dari rasa menyatu di antara sesama manusia. Maka ubahlah cara itu.

Jika masih dilakukan. Maka keinginan menjadikan negeri ini mercusuar dunia hanya bualan saja. Boro-boro bisa menjadi orang pilihan. Bahkan menjadi pengikutnya pun rasanya menjadi pertanyaan.

Kenapa disebut bualan? Karena untuk mewujudkan itu harus dengan persatuan. Sedangkan cara menyombongkan SARA sendiri menjauhkan persatuan itu. Jauh dari kesetaraan/kesejajaran.

Kalau sudah kumpul/bersatu kan enak. Tentukan tujuan bersama. Buat rencana. Bagi tugas yang sesuai dengan keahlian/minat. Laksanakan dengan sepenuh hati dan semaksimal mungkin. Buat evaluasi berkala.

Ini kan aneh. Boro-boro mau rembukan bersama. Kumpul/bersatu aja kagak. Itu karena masing-masing pengen/merasa lebih tinggi. Gak ada rasa setara/sejajar. Akhirnya jalan sendiri-sendiri… Bla..bla..bla..

Jangan bertolak belakang, antara keinginan, dengan praktek yang dilakukan.

(Visited 15 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.