Daya Tarikmu

Dulu. Dulu sekali.

Saat engkau secara fisik belum ada. Leluhur kita pun belum ada. Makhluk hidup belum ada. Bahkan bumi pu masih panas membara.

Sebelumnya ia adalah bagian, dari seuatu yang membentuk tata surya. Dengan Matahari di tengahnya.

Gravitasi, yang memagnetisasi, sesuatu yang lebih besar menarik yang kecil di sekelilingnya. Sudah hukum alam, mau gak mau, yang kecil itu akan tertarik hukum gravitasi itu ke tengahnya.

Yang selanjutnya kuungkap ini adalah permainan fikiran. Yang jika penuh hikmah dan yang membaca berada frekuensi sama. Mungkin kamu akan tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Magnetmu suatu saat nanti, seharusnya, bukanlah gemerlap dan silaunya harta benda. Karena saat itu sedemikian melimpahnya ia, sehingga tak lagi kau anggap demikian berharga.

Tapi sebelum itu, tentu harus ada sumber gravitasi yang akan menarik sesuatu yang lain di sekitarnya. Dan itu adalah dirimu. Lebih tepatnya idemu. Gagasanmu. Pemikiranmu yang mengkonsepkan sesutu yang baru. Yang bermanfaat serta diterima oleh semuanya. Sehingga siapa pun akan senang hati mewujudkannya.

Maka dari awal kubuat channel ini selalu kusampaikan. Mari kita sama-sama sampaikan ide dan gagasan. Mana tau di antara sekian banyak gagasan itu, ada yang menjadi sumber gravitasi dari teman-teman kita yang lainnya.

Jika itu tidak kita lakukan, maka jiwa-jiwa ini akan tetap terpisah dengan keakuan. Kesombongan, merasa lebih tinggi dari yang lain, dan dengan congkak merendahkan sesama yang lain.

Maka, amoeba itu tetaplah jadi amoeba. Walaupun mereka membelah setrilyun kali pun. Atau angka yang lebih besar dari itu. Ia akan tetap jadi amoeba. Terpisah antara satu diri dengan diri yang lainnya. Walaupun mereka punya informasi genetik yang sama.

Sampai kemudian sesutu terjadi di dalam diri salah satu yang sama itu. Yang berani keluar dari kenyamanan. Yang mampu membuat perubahan. Tentunya ke arah yang lebih besar, dan lebih baik lagi sesuai petunjuk Tuhan.

Tapi apa yang terjadi dengan diri kita. Yang asalnya dari satu sel zigot itu? Kemudian berkembang demikian sempurna. Sampai engkau, kita, bisa tersenyum dalam kesadaran. Atau tertawa terbahak dalam kelucuan.

Itulah yang ingin aku sampaikan padamu. Melalui ide Surga Dunia. Ma’rifatullah jiwa-jiwa sedunia. Dan saraf dunia. Yang semua, kuncinya adalah “lillaah” itu.

Jika dirimu belum punya ide yang lebih baik dari itu. Mari kita mewujudkan ide yang sudah ada. Yang syariatnya keluar dari isi kepalaku, tapi hakikatnya adalah kehendak IA Yang Maha Kuasa.

Maka tak perlu kau risau dengan itu. Yang bahkan aku sendiri yang menjadi tempat keluarnya. Tidak merasa itu semua milikku. Karena semua adalah milikNYA. Dan jika itu semua itu terwujud pun, adalah berkat rahmat dan ridhoNYA.

Dan tahukah kamu? Dan seandainya kamu mengikuti semua videoku tentu sudah tahu. Bahwa untuk mewujudkan ide itu. Aku bahkan tak pernah berniat untuk menjadi pemimpinnya. Bukankah kalian yang berniat seperti itu.

Lha, terus aku jadi apa? Mungkin itu tanyamu.

Maka kujawab: aku cukup menyediakan sistemnya saja. Sistem keadilan itu. Yang bisa memilih yang terbaik di antara kalian itu, dengan tanpa uang sogokan atau rekening dadakan itu.

Terus, mungkin saja, ada keiridengkian, kehasudan begitu merayap dalam jiwa kalian. Sehingga sistemnya pun kalian yang ingin menyediakan. Maka saat ini pun kujawab: Silahkan, dengan senang hati.

Hanya saja mungkin belum banyak yang menyadari. Kunci “lillaah” itu seolah tertera dengan sangat kentara. Dari mulai tempat aku lahir di dunia. Sampai ide itu pun keluar begitu saja, dari isi kepala, melalui perantaraan aku berkata.

Dan sistemnya telah, sedang dan nanti akan kutata, di situs jurnalismewarga.net, yang logonya jika kalian cermat, itu pun menyerupai “lillaah” dengan tanpa kusengaja. Dan semua itu kujelaskan dengan terbuka, di konten yang kukupas di channel ini, pada livestreaming yang pertama.

Tapi tak ada salahnya kalian mencoba. Bisa saja Allah berkehendak, ide itu muncul di kepalaku. Tapi sistem dan pelaksanaan segala sesuatunya. Kalian yang melakukan. Aku tak perlu ikut campur di dalamnya. Tinggal menerima hasilnya saja.

Jika demikian, tentu aku lebih berbahagia. Mendapatkan sesuatu yang diidamkan. Tanpa berperih hati atau berkeringat badan.

Aku. Bagiku. Jika semua ide itu terwujud. Di mana kebahagiaan jiwa dan raga itu kita rasakan bersama. Bukankah aku pun akan merasakannya?

Biar, biarlah kalian-kalian yang memimpin dan menjalankannya. Bagiku sudah tak ada beda. Apakah itu kamu, atau aku. Karena dulunya kita adalah satu.

Sebagaimana tertera di namaku: Asep Ma’mun Muhaemin (Asmamu). Asmamu = Asmaku. Namamu = Namaku. Yang bisa diterjemhakan secara hakikat. Aku adalah kamu.

Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *