Tanpa yang Lain

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Mampukah kamu bahagia tanpa orang lain? Mampukah kamu hidup tanpa orang lain? Mampukah Indonesia tetap berdiri tanpa negara lain?

Itu adalah pertanyaan yang harus kamu jawab. Jika kamu mau merencanakan sesuatu. Atau lebih jauh, mau melakukan sesuatu.

Pemahaman secara umum, tentu kita sepakat, bahwa setiap unsur/elemen yang ada, dan kita sadari saat ini, tentu berhubungan dengan yang lain. Tentunya, itu berlaku juga untuk makhluk hidup. Dari yang paling sederhana seperti virus, sampai yang paling kompleks seperti kita, manusia.

Manusia (kita) secara fisik, tentu saja mampu berdiri sendiri (jika sudah dewasa, dan punya modal awal). Misal, Seseorang tinggal di hutan. Ia makan dari apa yang ia tanam, atau kembangbiakan. Dan jika ia tak berkeinginan untuk punya keturunan. Sampai ia waktunya meninggal pun, ia bisa sendiri merebahkan tubuhnya di kuburan.

Pertanyaannya, apakah kita mau hidup seperti itu?

Bagi para petapa, yang sudah tak silau lagi akan hasrat dunia, tentu cara itu bukan hal yang aneh. Bahkan mereka, sudah tak melibatkan lagi urusan isi perut. Mereka hanya berdiam diri, mensucikan jiwa, sampai nafas terhenti.

Untuk golongan manusia yang kebanyakan ada saat ini, tentu hal semacam itu bukan lagi jadi tradisi.

Mereka akan bergembira, saat tombol like akunnya dipencet orang di sosial media. Atau pakaian bagusnya, kemilau perhiasannya, rupawan wajahnya membawa pundi-pundi pada rekeningnya.

Hanya saja, di sisi lain, rapuhnya jiwa mereka, kadang hidupnya berakhir, dengan menenggak racun serangga, saat ada orang lain yang membullynya.

Atau mungkin kamu masuk golongan ketiga?. Kamu tetap bercengkrama dengan siapa saja. Tetap menghias dunia dengan pekerjaan yang ada. Dengan tetap menjaga sucinya jiwa dengan bekal pengenalan atas TakdirNYA.

Sepertinya, kesendirian atau keramaian, tetap bisa menimbulkan kebahagiaan. Namun kadang, ada saat tertentu, kita harus mengambil langkah ekstrim, untuk merubah keadaan. Seperti apa?

Saat lingkungan tempat hidup saat ini sedang dilanda kekacauan. Dalam hal fisik maupun pemikiran. Supaya kita tak ikut terkena dampaknya, perlu kiranya kita mengasingkan diri. Mencoba sesutu, atau mencari cara, supaya lingkungan asal tadi kembali diseimbangkan. Sampai diri sendiri sudah mampu diandalkan. Baru kembali ke lingkungan, bisa menjadi contoh tauladan, bagi mereka yang masih ada dalam kekacauan.

Itu bisa dicoba dari lingkup kecil sampai besar.

Misal: seorang yang bertirakat/bertapa/berkhalwat sendiri (di hutan/di rumah) Dalam kesendirian, atau bahkan keramaian. Kemudian saat jiwanya sudah bisa mengendalikan diri, dan mampu membuat pencerahan. Ia kembali ke lingkungan, dan memperbaiki/meningkatkan kualitas kehidupan.

Dan, bisa jadi, cara itu akan berhasil dilakukan negara kita, dalam tataran pergaulan dunia.

Bagaimana caranya? Itulah isi dari ide dan gagasan Surga Dunia di Channel ini, yang dibangun dengan kebersamaan, kesetaraan, dan pemusnahan kesombongan.

Kamu mau menonton dalam bentuk video, ini dia 😊 :

Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *