Di Depan Mata

Cerita yang kutaruh di depan ini hanya pengantar saja, dari cerita yang mungkin nyata, di belakangnya. Perhatikanlah 😊

Beda 1 detik. Saat engkau putuskan menghapusnya. hapus dan blokir kontak gadismu itu.

Padahal, 1 detik sebelum itu. Gadismu baru saja pencet tombol kirim di HPnya. Membalas chat yang sudah berbulan-bulan engkau kirimkan itu.

Aku tahu engkau begitu menderita dalam penantian itu. Rasanya lebih tak menentu, dibanding sembilu yang sudah kadung kena kulitmu.

Karena luka yang menyayat kulit itu tak sengaja. Kecelakaan kerja biasa saja. Artinya tidak kau rencanakan apalagi inginkan. Saat sudah terkena, perih sebentar, lalu kau lupakan.

Tapi penantianmu itu. Takkan ada yang bisa membayangkannya bagaimana galaunya, kalau tak punya rasa. Antara engkau tak tahan dengan tekanan rindumu. Dan tak tahu kenapa gadismu diam saja.

Kalau tahu marah sebelumnya, mungkin kau pun mengerti. Atau sebaliknya engkau yang marah, urusan lain lagi. Atau ada pemuda lain yang membawa gadismu pergi. Itu pun bisa kau balas dengan mencari gadis lain lagi.

Tapi ini gadismu diam benar-benar diam. Kau sambangi, gadismu sudah berisitrahat malam. Begitu orangtuanya menjelaskan, dalam bingkai rahasia mencekam. Kau datang siang, gadismu katanya pergi, dan hanya menitipkan kata salam.

Sudah seringkali kau melakukan itu. Lain lagi kejadiannya. Seolah nasib sedang menggodamu, dengan kepastiannya. Yang engkau tak tahu bagaimana ujungnya.

Dan berujung saat engkau memblokir kontak gadismu itu.

Dan jawabannya baru kau daptkan. Saat bismu yang mengarah ke kota. Diberhentikan seseorang di tengah jalan. Dan tiba-tiba di kursi bis sampingmu tercium aroma. Yang tak mungkin kau lupakan.

“Mau lari ke mana takkan kubiarkan sendiri. Aku tak mau ditinggal pergi, itu penghulu di rumahku sudah lama menanti, cepatlah kita turun nanti busnya keburu jalan lagi”

Begitu ucap gadismu dengan merdunya. Dengan mata berbinar-binar kesenangan. Karena bismu yang dikejarnya berhasil ia dapatkan. Yang jantungmu berdegup, sungguh sukar dilukiskan lewat kata.

Kamu sudah yakin bahwa Tuhan mengasihi dan Menyayangimu. Dengan bukti-bukti yang tak terbantahkan. Melalui kejadian dan peristiwa yang seolah tak kau sengaja. Tapi mengarahkanmu pada bukti yang begitu nyata.

Lantas kenapa engkau mau menyerah dengan cita-citamu. Apakah kau tak yakin dengan usaha dan doamu. Padahal selangkah lagi keberhasilan itu di depan mata. Untuk kebahagianmu dan seluruh semesta.

Lakukan terus. Jangan menyerah. Peneliti sampai ribuan kali eksperimen untuk agar percobaanya terbuktikan. Kadang kita, manusia, menyerah saat tekanan bertubi-tubi menghampiri. Padahal hasil yang diinginkan sudah dalam perjalanan untuk pembuktian.

Tapi bagimu yang sudah yakin akan kehendaNYA. Tentu apa pun akan dihadapi, seberat apa pun ujiannya. Karena sepanjang hidupmu, menaiki tangga usia. Hal semacam itu seringkali dilewati, plus pemahamannya.

Dan seharusnya, sekarang kau tinggal menikmati hasilnya. Itu pun, kau masih perlu tenaga untuk jalan, menaiki pohon, melewati duri dan memtik buahnya.

(Visited 73 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *