Kenangan Liburan Sekolah ke Monas, Dan Momen Rekreasi Lainnya

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Hampir mendekat jam 12 malam, untuk kesekian kalinya saya melewati Monas. Dari arah Istana Presiden, sebagai sudut pandang sebelah kiri saya.

Foto sampul di atas, saya ambil di depan gerbang Monas sebrang Istana Presiden itu. Sudah tak terhitung rasanya, atau lebih tepatnya tak ingat lagi berapa kali saya masuk area Monas. Apalagi jika hanya melewatinya saja.

Dulu sekali, di awal-awal menginjak area Monas, biasanya dalam rangka tahun baru. Namun paling pertama kali, seingat saya sewaktu mengunjungi PRJ (Pekan Raya Jakarta) di tahun ’90an. Kini PRJ lebih banyak diselenggarakan di Kemayoran.

Waktu itu masih usia SD, saat liburan kenaikan kelas. Namun yang pertama kali, bukan yang saya ceritakan di kisah tak terlupakan ini (Adik-adik perlu membacanya, untuk motivasi belajar, tinggal klik aja). Tapi saat bersama Ayah, dan Ibu+Adik juga kalau tidak salah. Dan masih dalam rangka kunjungan liburan, di saudara jauh yang diceritakn di kisah tadi itu.

Menegangkan sekali rasanya, sewaktu akan mengunjungi Monas untuk petama kali. Maklum, dari berbagai cerita yang di dengar anak desa seperti saya, usia SD, dan dengan berbagai bumbu ceritanya. Mengenal Jakarta pun hanya pada saat liburan saja.

Maka begitu campur aduknya perasaan saat itu. Apalagi saat pertama kali berangkat ke Monas, untuk pertama kalinya pula pengalaman naik taksi.

Kalian, para pembaca jangan mesem-mesem sendiri. Seolah lucu dengan yang saya ceritakan. Apalagi Adik-adik zaman sekarang, terutama yang lahir dan tinggal di Jakarta, tentu sulit memahami rasa bahagia campur tegang yang saya rasakan saat itu.

Kini pun, saya sudah tak meraskan lagi perasaan itu. Setelah tinggal di Jakarta mendekati masa 23 tahun. Lebih tepatnya saat pertama kali tinggal menetap, saat mulai sekolah di SMA 34 Jakarta di tahun ajaran baru 1998-1999 – – seperti pernah sedikit dibahas di cerita pada link di atas.

Tapi saya menduga, di zaman ini pun perasaan bahagia campur tegang itu masih bisa dirasakan. Tentunya oleh mereka yang belum pernah ke Jakarta, dan belum pernah mengunjungi berbagai tempat rekreasi atau tempat bersejarah lainnya di sini.

Terutama bagi mereka yang tinggalnya di desa, dengan tingkat ekonomi yang kurang beruntung. Bagi yang belum pernah ke Jakarta, tapi saat ini tinggal di kota besar seperti Bandung, Surabaya, Medan, Banjarmasin dan kota provinsi lainnya, tentu tak akan seheboh kalian yang setiap hari melihat kehidupan desa saja.

Setelah 5 kali masuk ke area Monas, rasanya perasaan senang itu masih terasa. Karena momennya pun berbeda-beda.

Jika yang pertama tadi saat ada acara PRJ, di lain waktu acaranya ada yang saat perayaan tahun baru, saat naik ke puncak Monasnya, saat dengan Istriku sekarang ini, atau saat bersama keluarga yang lain. Bahkan perayaan malam tahun baru pun, rasanya lebih dari 3 kali saya habiskan waktu di Monas.

Yang masih ingat sampai sekarang, dulu sempat mengunjungi Monas seorang diri. Dalam rangka acara apa saya lupa. Sepertinya acara Maulidan di Mesjid Istiqlal, atau mungkin masih dalam rangka tahun baruan juga.

Bagi yang belum tahu, Mesjid Istiqlal itu berada di area Monas. Arah Timur Lautnya.

Kok ke Monas sendirian? Pastinya pembaca penasaran. Jawabnya ya gampang: karena gak ngajak teman, dan juga tak punya pacar, hahaha.

Nah, kenapa peristiwa itu tak bisa dilupakan? Karena:

  1. Sudah tak ada kendaraan untuk pulang karena sudah lewat tengah malam, maka saya tidur sendirian. Bukan tidur di tengah lapangan Monas, tapi di tingkat paling tinggi Masjid Istiqlal 😊. Untung marbotnya gak tahu ya. Tapi tetap terbangun dengan sendirinya, saat Adzan Shubuh berkumandang, dan tentunya saya pun ikut berjamaah di sana.
  2. Saat terpisah dari anaknya saudara jauh yang saya ceritakan di link tadi, setelah nonton konser apa saya lupa. Padahal waktu itu pun sepertinya masih usia SD, tapi sudah lebih tinggi kelasnya. Namun pada peristiwa itu tak kalah tegangnya, karena saya hampir terbawa mobil ke Jawa. Bayangin coba. Tapi beruntungnya saya masih bisa pulang ke daerah Pangkalam Jati, perbatasan Pondok Labu-Jakarta Selatan itu.

Kalau diceritakan semua, sepertinya harus bikin Novel saking panjangnya. Ya karena seringnya itu saya berkunjung ke Monas ini. Seolah suatu saat, saya harus tinggal di area Monas juga, yang tempat awal paragraf tadi saya ceritakan, awal kemunculan di Monas itu. Istana Presiden. Hahaha.. Lamunan dari mana lagi itu??? πŸ˜€πŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜πŸ˜†πŸ˜…πŸ˜‚πŸ€£

Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *