Laju Proses

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Aneh. Sungguh aneh kelakukan banyak orang. Bisa jadi termasuk penulis sendiri, haha. Atau yang lagi baca ini.

Apa yang aneh? Begini: orang bilang mau mendapatkan sesuatu. Tapi proses untuk agar “sesuatu”nya itu diperoleh, tidak dilakukan.

Ada juga yang melakukan prosesnya. Tapi muter-muter. Bukannya sampai tujuan. Malah kesasar. Bukan tak tahu jalan. Tapi terjerat godaan.

Di tempat lain lagi. Ada yang sudah menjalankan proses. Jalannya benar. Sesuai petunjuk. Tapi ternyata jalannya pelan. Bukan pelan aja. Pelan sekali. Akhirnya ditabrak orang dari belakang.

Yang jalan cepat pun ada. Tapi ternyata kecepatan. Temannya di belakang ketinggalan.

Tambah lagi karena dia jalan cepat, buru-buru, lupa bekalnya terbatas. Saat bekal habis. Yang belakang tak keburu menyusul walau pakai bis. Berujung tangis. Lama-lama ngemis.

Yang jalan bareng pun wataknya macem-macem. Ada yang faham tatakrama berteman. Ada yang asal jalan. Ada yang banyak omong. Ada yang diam aja.

Ada yang sabar. Ada yang sukanya marah-marah. Kalau amarahnya gak tertahan. Sekawanan akhirnya pada tawuran di jalanan. Padahal awalnya berteman.

Itu karena tak ada perencanaan. Tak ada konsep. Tak ada konsensus, atau kesepakatan. Tak dibekali pemahaman yang diketahui bersama.

Apalagi kalau di antara mereka ada yang diliputi sifat sombong. Merasa dirinya paling bisa. Paling ngerti. Paling pandai.

Padahal gak ada orang yang suka dianggap bodoh. Kalau ada yang sok-sokan merasa lebih dari yang lan. Ya orang biasa pun nganggap dirinya diremehin.

Apalagi kalau kena sama orang yang banyak ilmu. Yang tak suka menonjolkan kepandaiannya. Karena tak kentara, sama yang sombong dibodoh-bodohi. Ya jelas aja dia ngerti.

Makanya orang sombong (yang biasanya sok tapi tak tau diri). Sama orang pandai (dan iseng) ia akan dikibuli. Disuruh kerja dan dipuji-puji.

Walau ia tak menyadari. Kalau si banyak akal lah yang menikmati. Tanpa perlu lelah dan capai hati.

Dan ini terjadi pada kita. Suruh maju-maju dan rajin usaha. Menghabiskan semua energi dan hasil bumi. Tapi nilai mentah di jual ke luar negeri. Mereka jual lagi ke kita dengan harga lebih tinggi. Mereka untung kita rugi.

Hal ini banyak yang sadar. Tapi anak negeri yang ngerti tak mau peduli. Karena ia sendiri malah ikut ngambil untung untuk diri sendiri.

Anak negeri yang ngerti dan mau membela ibu pertiwi. Diojok-ojok, dijauhi. Oleh mereka yang sudah untung dan takut rugi lagi. Lebih-lebih yang takut mati. Walau ada juga yang sekedar ditakut-takuti.

(Visited 18 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.