Mau Senang?

Beda orang pasti beda pendapat. Ada yang menilai diri demikian tingginya. Sampai untuk salaman pun nunggu orang lain ulurkan tangan lebih dulu. Atau orang lain lewat tak permisi langsung dimarahi. Ada lagi pemotor sedang buru-buru, gak sempat turun dari motor langsung nanya. Karena dianggap gak sopan yang ditanya memilih gak menanggapi. Jangankan menjawab pertanyaan, menoleh pun tidak.

Di tempat lain beda lagi. Ada orang demikian cueknya dengan pandangan lain orang. Di bentak kalem bae. Dihina malah nyengir. Dibilang gila lo, malah tertawa.

Jika di antara kita ada yang sedang dalam kondisi baik. Dalam artian secara ekonomi di atas rata-rata. Atau di mata masyarakat selalu dalam posisi terpuji. Dan belum pernah mengalami kondisi sebaliknya. Alangkah baiknya sekali-kali menengok ke bawah. Kalau tidak mau mencoba merasakan bagaimana jadi orang bawah. Dan hal itu sepertinya perlu, untuk menghindari kejadian seperti di bawah ini:

Orang yang tiap hari selalu bersih, dan selalu dikondisikan jauh dari kotoran penyebab penyakit. Bahkan untuk makan aja cuci tangannya sampai 3x. Dengan sabun pula. Namun saat suatu hari ada di lingkungan asing. Dengan kondisi yang tidak seperti kesehariannya. Pulang-pulang jatuh sakit. Padahal orang lain yang terbiasa hidup di lingkungan itu, pada tempat dan waktu yang sama. Gak ada yang sakit.

Di tempat lain lagi. Orang yang hilang kesadaran. Yang tiap hari mungutin makanan sisa. Dari sampah, dan dari sisa makanan di sembrang tempat. Jangankan mencuci tangan dulu, berfikir pun ia sudah tak sanggup. Makanannya pun entah sudah ditempeli berapa macam bakteri. Tapi kenyataannya. Jarang sekali mereka terlihat sakit.

Jadi sebenarnya yang bikin gampang sakit itu menjaga kebersihan fisik apa fikiran? Tertawa itu banyakan orang yang sibuk menjaga citra diri? Atau orang yang banyakan lenyeh-lenyeh? Enakan mana, ngeliat orang yang haus pujian dan sanjungan? Atau ngeliat orang ramah murah senyum?

Kayaknya orang yang gila hormat atau haus pujian itu malah dijauhi. Kenapa?

Jawabannya sederhana: ada di Surat Alfatihah. Ayat pertama. Bunyi ringkasnya yang dikenal: Alhamdulillah. Artinya: Segala puji untuk Allah. Lha, udah tau semua puji milik Allah, kenapa dia pengen dipuji? Ya tentunya Allah yang mempunyai segala puji itu bisa marah. Buktinya yang tampak ya itu. Gak ada yang suka sama yang haus pujian macam itu.

Anda sendiri bagaimana?

(Visited 22 times, 1 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *