Memaksimalkan Segala Potensi

Maksimal di sini saya artikan batas kemampuan.

Untuk mencapai hasil yang diinginkan, setiap orang tentu melakukan sesuatu dalam prosesnya.

Dalam segala hal.

Mau berpenghasilan tinggi, mau lulus ujian, mau badan sehat, mau mencari jodoh dan banyak lagi lainnya.

Seseorang bisa saja mengaku menginginkan sesuatu, atau bercita-cita, mimpi untuk masa depannya. Tapi kadang, apa yang ia lakukan tidak mencerminkan keinginannya itu.

“Saya mau masuk SMA Favorit X Pak.” Jawab seorang anak SLTP kelas 3, saat ditanya gurunya.

“Nilai kamu rata-rata sekarang berapa?” Tanya balik sang guru.

“6,5 Pak,”

“Berapa jam sehari kamu belajar?”

“Kalau ada ulangan aja, Pak.”

“Itu artinya kamu hanya berangan-angan. Antara keinginan dengan usaha tidak bersesuaian”

Percakapan di atas hanya contoh. Dan realita di masyarakat, kondisi seperti itu banyak.

Ada lagi orang mau rizki banyak, mau kerja di tempat bagus. Tapi tiap hari ia tidur 12 jam, 2 jam nongkrong, 2 jam nonton TV , minta doa lewat ibadah saja susah.

Ada lagi orang berkeinginan segera dapat jodoh. Yang lebih baik dari dirinya. Tapi ia tidak memantaskan diri untuk dilirik lawan jenisnya. Jarang beragul, mencari pasangan yang sempurna – – alias punya standar lebih tinggi dari yang seharusnya ia dapatkan.

Alhasil keinginan-keinginan itu hanya menyisakan ilusi. Tak berbuah hasil, apalagi jika tak ada upaya lebih memperbaiki diri.

Pencapaian seseorang tentu tak kan jauh dari usahanya. Seharusnya.

Benar kata pepatah cita-cita itu harus setinggi langit. Jika misal bercita-cita jadi Presiden, maka di akhir karir politiknya, minimal ia jadi Gubernur, atau Bupati.

Untuk bercita-cita seperti itu, tentu ia punya modal kecerdasan, pandai bersosialisasi, bisa dipercaya, memperhatikan pendidikan dan pandai berorganisasi. Segala apa yang dilakukan, maka selalu tertuju pada target itu. Jika ada halangan, rintangan atau cobaan, maka fokusnya tidak berubah. Sehingga di ujungnya, bisa seperti tadi.

Lain halnya jika cita-cita jadi orang biasa saja. Atau bahkan tidak punya cita-cita. Maka cara pandang dan bagaimana ia hidup, tentu menyesuaian dengan bagaiamana ia berkeinginan.

Contoh lain, Jika bercita-cita jadi pengusaha sukses. dengan omset 10 Milyar perbulan. Atau bahkan mau menjadi manusia terkaya di dunia. Maka proses hidup yang ia jalani, tentu tidak akan sama dengan yang punya target di bawah itu. Namun setidaknya, minimal ia akan bisa menghidupi karyawan – – di luar keluarganya.

Sebutan minimal di atas berlaku, jika terdapat kesesuaian antara cita-cita dan usahanya. Juga doanya. Dan maksimal dalam menjalani proses pendakiannya.

Artinya, kalau hanya karena 1 halangan kemudian ia menyerah. Maka dalam prosesnya ia akan banyak sekali merubah target hidupnya. Fokusnya aka terbagi, dan lama-lama kehabisan waktu karena terlalu banyak mencoba. 1 cita-cita tidak tercapai, ada cobaan sedikit tidak tahan – – lantas ia ganti dengan cita-cita lainnya.

Maka, untuk bisa mencapai cita-cita hidupmu. Maksimalkan usahamu itu, juga doamu. Buat target yang jelas, dan evaluasi berkala atas semua pencapaianmu. Boleh saja berganti keinginan, tapi tidak menjadikanmu plin-plan. Berganti haluan, jika sudah yakin apa yang jadi target semula, tidak menjadikanmu lebih baik dari yang seharusnya.

Teguhan tekadmu, motivasimu, dan niat baikmu. Sehingga keinginan itu akan menggiring setiap sel pada tubuhmu untuk berjalan sesuai dengan kehendak itu.

Setelah segala upaya itu dijalankann, semaksimal yang bisa dilakukan. Baru kemudian nanti Tuhan akan memperlihatkan hasilnya. Yang InsyaAllah sesuai cita-citamu, atau bahkan Tuhan melebihkan pencapaian itu. Lebih dari target yang kamu tuju.

(Visited 29 times, 1 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *