Membuka Relung Hati

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Beragam cara ditempuh oleh manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, yaitu Allah Swt. Cara tersebut ada yang melalui jalan merenung atau ber-tafakkur
atau berżikir.

Ada pula seseorang menjadi dekat dengan Allah Swt. yang disebabkan oleh musibah yang menimpanya. Demikianlah Allah
Swt. membuka cara atau jalan bagi manusia yang ingin dekat dengan-Nya. Sebagai orang yang beriman, tentu saja kita harus mampu menempuh cara apa pun agar dekat dengan Allah Swt.

Kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya tentu saja akan mengantarkannya mendapatkan berbagai fasilitas hidup, yaitu kesenangan dan kenikmatan yang tiada tara. Bukankah seorang anak yang dekat dengan orang tuanya atau seorang pegawai bawahan dengan atasannya akan memberikan peluang atas segala kemudahan yang akan dicapainya.

Jalan lain untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. adalah melalui żikir. Żikir artinya mengingat Allah Swt. dengan menyebut dan memuji nama-Nya. Syarat yang sangat fundamental yang diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui żikir adalah kemampuan dalam menguasai nafsu, selanjutnya bila menyebut nama Allah Swt. (al-Asmā’u al-Husnā) berulang-ulang di dalam hati akan menghadirkan rasa rendah hati (tawadhu’) yang disertai dengan rasa
takut karena merasakan keagungan-Nya.

Żikir dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Berżikir tidak perlu menghitung berapa jumlah bilangan yang harus diżikirkan, namun yang penting adalah żikir harus benar-benar menghujam di dalam kalbu.

Selain melalui żikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt. dapat pula dilakukan melalui perbuatan atau amaliah sehari-hari, yaitu dengan selalu meniatkan bahwa yang kita lakukan semata-mata hanya karena taat mematuhi aturan main-Nya. Misalnya, kita berbuat baik kepada tetangga bukan karena tetangga baik kepada kita, tetapi semata-mata karena Allah Swt. menyuruh kita untuk berbuat baik.

Kita bersedekah bukan karena kasihan, tetapi semata-mata karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengeluarkan sedekah membantu meringankan beban orang yang sedang mengalami kesulitan. Hal ini seharusnya dapat kita laku kan karena pada waktu kecil kita patuh melaksanakan perintah dan nasihat orang tua, bukan?

Mengapa sekarang kita tidak patuh pada perintah-perintah Allah Swt? Jika śalat dapat kita kerjakan karena semata-mata taat mematuhinperintah Allah Swt.. Maka rasanya mustahil apabila kita tidak dapat bersikap
demikian pada perbuatan-perbuatan lainnya.

Kamu tentu pernah mengalami sakit atau musibah baik ringan atau berat.

Ceritakan pengalamanmu. Bagaimana cara kamu menyikapi kehadiran Allah Swt. saat terkena musibah? Apakah Allah Swt. akan hadir dengan pertolongan-Nya, ataukah Allah Swt. akan membiarkanmu dalam
kesusahan?

Sumber:

Buku Pendidikan Agama Islam Kelas 10, Kemendikbud

(Visited 66 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *