Mewujudkan Mimpi

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Kalau dirimu ragu untuk berbuat. Enyahkan pikiran itu. Karena berdiam diri bukanlah solusi. Yang ada kita akan makin terlelap dibuai mimpi.

Mimpi tetap tak nyata, jika hanya ilusi. Namun keajaiban mimpi akan membuat dunia terpana. Saat kita sudah mewujudkannya di alam nyata. Dengan syarat prosesnya pun dilakukan, tentunya dengan sepenuh hati.

Timbulnya keraguan karena kurangnya keyakinan. Maka tanyalah kembali apa tujuan akhirmu. Untuk siapa, oleh siapa dan dari siapa asal inginmu itu. Ingat, menjawab pertanyaan semacam itu harus dengan sepenuh kesadaran.

Perlu juga dipastikan, apakah itu keinginan? Atau kebutuhan?

Kamu mungkin balik tanya. Apa yang sudah kulakukan? Apa tidak lucu kalau aku hanya berwacana? Tanpa ada perbuatan nyata.

Baik, aku jawab sekarang. Tulisan ini pun adalah sebuah tindakan. Ucapanku yang divideokan pun adalah tindakan. Menyampaikan yang ada di pikiran pun adalah tindakan.

Supaya orang lain mengetahui apa yang kugagas, kuidekan. Dan saat pendengar ada yang mengamini. Dan setuju dengan ide itu. Maka tugasku selanjutnya bersama yang setuju, bersama-sama mewujudkan mimpi itu.

Bagaimana kalau tidak ada yang menerima? Tak masalah, takkan mengurangi kebahagiaanku. Justru, para pendengar, dan generasi jaman inilah yang hilang kesempatan. Untuk merasakan bahagia berjamaah itu.

Sebab, mungkin saja konsep ini akan terwujud suatu saat nanti. Yang kita tidak tahu, kapan itu akan terjadi.

Jadi, takkan ada yang berkurang dalam diriku. Seandainya pun ide itu belum terwujud di jaman kita. Karena, setidaknya aku sudah melakukan apa yang menjadi tugasku. Dan justru, pendengarlah yang bisa saja dimintai pertanggunjawaban.

Kenapa?

Karena, kalau yang kukatakan ini adalah sebuah kebenaran dari Tuhan. Maka yang mendengar semestinya menyetujui. Dan kita bersama mewujudkannya. Itu pun, jika pendengar mau dikatakan sebagai hamba Tuhan.

Bagaimana kalau yang kuidekan ini adalah kekeliruan? Ya, seharusnya pendengar ada yang memberikan masukan. Tentu dengan alasan, pertimbangan dan penjelasan yang sesuai porsinya.

Jangan sampai kamu menolak itu karena alasan: ide itu datang dariku, yang bukan bagian dari kelompokmu. Akan lebih berharga alasan penolakanmu: sebab kamu punya konsep yang lebih baik.

Kalau kamu merasa memiliki konsep yang lebih baik. Apakah sudah disampaikan pada yang lain? Untuk apa disampaikam? Supaya kamu tidak merasa benar sendiri.

Kalau belum. Kapan?
Kalau alasan belum waktu. Memang punya waktu? Sepanjang apa waktumu? Yakin diwaktu yang belum tentu itu, kesempatanmu masih ada?

Atau, tidak berani? Kalau menyampaikan saja tidak berani? Bagaimana sesama yang ketakutan, meminjam keberanian dengan hidup bersamamu? Dan kalau diam saja, siapa yang akan tahu kebenaran dirimu?

Kalau tak ada yang mengetahui, siapa yang akan mengamini kebenaran pikiranmu? Lantas bagaimana dunia akan terbantu oleh keberadaanmu? Katanya mau bermanfaat buat semesta?

Kalau ada dan tidak adanya kita, tak ada efek bagi dunia. Apakah hidup dan mati kitapun tak ada bedanya?

(Visited 16 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.