Pekik Pejuang, Mencari yang Kelihatan

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Mencari itu, disadari secara bahasa fisik melalui penglihatan. Penglihatan mata fisik tentu beda dengan mata batin atau spirit.

Banyak guru-guru menjelaskan bagaimana mata fisik demikian terbatas. Bahkan menipu. Contoh sederhana yang sering dikemukakan terlihatnya “semacam” air di jalan aspal yang panas.

Tak “terlihat” membohongi dan jelas teramat nyata. Hanya saja itu sebenarnya tak ada alias fatamorgana.

Kita tahu tak nyata karena buktinya pun ada. Kalau didekati “air” yang awalnya terlihat dari jauh itu ternyata tidak ada.

Bagaimana kita bisa melihat seorang teman? Apakah baik atau tidak jika hanya melalui tampilan lahir saja. Kalau melihatnya tidak dengan mata batin, atau basyiroh istilah agamanya.

Apalagi jika kebaikan seseorang itu hanya dinilai dari sudut pandang keduniawian. Yang untuk mencarinya pun demikian menyengsarakan. Bagaimana orang bisa melihat kebaikan dalam kebenaran?

Hanya karena seseorang memberi uang. Tak serta merta ia dinilai baik dengan sekali pandang.

Kalau memberinya itu ada maksud untuk membeli diri orang yang diberi. Dengan maksud untuk menanamkan sebuah misi yang tak ada kisi-kisi.

Betapa terpenjara seseorang yang sudah diikat dengan “kebaikan” yang terlabeli pamrih. Untuk keinginan misi nafsu yang disembunyikan dengan berbagai macam dalih.

Masalahnya jika misi yang dibawanya itu bertentangan dengan hukum “kebaikan” itu sendiri. Mampukah orang yang sudah “dibeli” itu untuk menolak permintaan sang pemberi?

Masih mending seseorang memberi dengan akad diutangkan. Yang tentu jelas harus dikembalikan sesuai kesepakatan. Dibanding memberi sesuatu karena ada maksud yang disembunyikan.

Namun utang pun biar sudah jelas cara pengembaliannya. Sama jahatnya jika diharuskan menambah dari pokoknya. Yang disebut dengan riba dalam istilah fiqihnya.

Saat ini orang yang hancur kehidunnya karena riba tentu memahami betapa jahatnya sistem itu. Yang belum menyadari atau bahkan menikmati, karena “ujian” itu masih berbentuk kemampuan untuk mencicilnya.

Namun ayat-ayat Tuhan itu demikian jelas. Bahwa riba itu demikian jahatnya. Sampai IA dan RasulNYA pun “disebutkan” memeranginya.

Dan sekarang “dunia” termasuk di negara kita tanpa sadar sedang bermandikan kehidupan dengan sistem itu. Bagaimana kita bisa menang, perang dengan sesama manusia saja belum tentu mampu.

Ini sok-sokan mau perang melawan Tuhan. Hanya dengan dalih tak apa asal “bunga”nya sedikit kan tidak jadi beban. Padahal sedikit ataupun banyak tetap saja melakukan.

Bahkan dibumbui iming-iming menguntungkan. Ya, itu kata mereka yang jadi pemodal kawakan. Yang bila terpaksa “membunuh” pelan-pelan plus mempermalukan. Agar dananya dikembalikan oleh mereka yang punya tunggakan.

Dan itu tak disadari peminjam yang baru dijeratnya. Karena anggapan masih mampu membayarnya. Padahal ia sendiri tak tahu bagaimana nasib ke depannya

Dan anggapan lain bahwa itu menumbuhkan perekonomian. Padahal tak ada yang sadar, perekonomian dengan sistem itu sudah jelas sedang berjalan ke arah kehancuran.

Namun Tuhan demikian sayangnya. Jawaban untuk melawan itu sudah sangat jelas dalam kitab suciNYA. Yaitu dengan sedekah dengan seikhlas-ikhlasnya.

Saat ini kehancuran mungkin masih tertahan. Karena masih banyaknya orang yang sedekah walau di tengah kekurangan.

Bagaimana kalau jumlah yang bersedekah sudah tak sebanding dengan demikian massifnya riba? Maka silahkan tunggu saja kehancurannya.

Awalnya saya pun berharap riba ini dinihilkan di negeri ini. Supaya kehancuran itu tak terjadi. Walau Undang-undang masih dikebiri oleh mereka yang tak punya nurani.

Namun yang datang ternyata “petunjuk” yang melebihi ekspektasi.

Yaitu konsep Surga Dunia yang masuk ke dalam fikirku dalam sadar. Tak ada yang dibayar dan tak ada yang membayar.

Jika itu diterapkan dan sudah terealisasi. Jangankan riba masih bisa bernafas dengan uangnya yang mengebiri. Bahkan utangnya pun sudah tak ada bentuknya lagi.

Tak ada yang membayar dan dibayar itu untuk memahaminya amatlah sangat mudah. Jangankan profesor atau S1-S3 atau apapun mau dibuat istilah.

Mereka yang tak bisa membaca pun akan langsung bisa menelaah. Mau dinamakan apalagi kalau bukan Sedekah yang benar-benar sudah mengejawantah.

Bagaimana kebahagiaan tidak akan tercipta? Kalau kebutuhan hidup sudah gratis semua? Apalagi kalau Jiwa-jiwa Sedunia sudah mencapai pada maqom Ma’rifatullaah nya.

Dan itu semua baru akan terwujud, kalau “kunci” lillaah nya sudah pada memegang, memahami, plus melaksanaknnya. Dan itu bisa menjadi kesadaran kolektif, kalau Saraf Dunia nya pun sudah terbentuk dengan sempurna.

Kalau sudah tahu begitu, Visi-Misi apalagi yang kamu “pembaca” semua mau cari?

Seharusnya dengan itu, semu permasalahan sudah selesai bukan?

Itu Kalau terwujud.

Masalahnya siapa yang mau mendukung dengan sepenuh hati? Kalau masing-masing masih berkutat dengan ego atau kelompoknya sendiri?

Sekarang jawabannya sudah ada. Tinggal kita “bersama” melakukannya.

Masihkah juga mau mencari pengakuan yang membuatmu mabuk kepayang? Walaupun itu hanya sekedar bayang-bayang?

Sampai kapan dunia kita mau tidur panjang?

.Mari bangunkan teman-teman semua, dengan penuh cinta dan kasih sayang, dan untuk saling menyemangati, teriakkan pekik pejuang walau dunia sedang bergoyang.

(Visited 18 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.