SUKA DUKA MENJADI GURU YANG DI RINDUKAN..

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SUKA DUKA MENJADI GURU YANG DI RINDUKAN..

Tahun 2017. Pertama kali saya menjadi salah satu bagian keluarga besar SDIT Bina lestari. Saat itu saya di tugaskan untuk menjadi guru pendamping di kelas 1 Ali bin Abi Thalib bersama teman yang saat pertama kali kenal dengannya saya langsung dekat karena kami sama-sama berasal dari satu daerah yang terkenal yaitu Ngapak alias Bataknya Jawa Tengah. Beliau adalah Mrs. Eri. Wali kelas yang saya dampingi.

Karena saya di tugaskan di pertengahan semester, jadi saya harus menghafal nama dan karakter anak-anak saat itu. Untuk pertama kalinya saya menghadapi anak-anak yang masih dalam tahap resonansi dari Taman Kanak-Kanak  ke jenjang Sekolah Dasar, begitu banyak hikmah yang saya ambil dari berbagai kejadian yang sangat memerlukan kesabaran. Karena kelas Ali Bin Abi Thalib adalah kelas yang mayoritas memerlukan pengajaran dan penjagaan yang ekstra selama di lingkungan sekolah.

Bukan hanya anak yang dalam tahap pembelajaran, PTS bahkan PAT masih ada yang belum lancar menulis dan membaca.

Bukan hanya yang setiap berangkat sekolah di depan gerbang penuh drama mogok sekolah.

Bukan hanya yang sedang Kegiatan KBM berlangsung tiba-tiba ada bau-bau khas yang mengharuskan Kegiatan KBM terhenti.

Bukan hanya yang tiba-tiba tidur lelap karena sakit. Muntah dan ingin di antar pulang ke rumah

Bukan hanya yang setiap KBM saya selalu menjadi satu-satunya orang yang ada di pandangannya namun dia lebih memilih menjadi pengawas ibunya lewat jendela.

Bukan hanya yang tiba-tiba heboh karena berkelahi karena berebut pensil, atau yang bukunya di coret oleh teman sebangkunya hingga ia menangis.

Bukan hanya menjadi tempat curhat para orang tua tentang PR atau materi yang telah di sampaikan namun ia tak tuntas menulis.

Namun, menjadi guru di kelas yang menurut saya kelas terspecial ini merupakan tanggung jawab besar bagi saya yang sebelum saya masuk kelas harus mempersiapkan diri baik dari segi materi, mental dan stok kesabaran yang harus selalu tersedia.

Tak terasa satu tahun terlewati. Tanpa sadar, semua materi yang telah saya berikan kepada anak-anak telah habis dan semua materi akan di ujikan. Di situlah saya berserah diri kepada Allah dan harus menyiapkan nilai terbaik untuk mereka semua.

Alhamdulillah di ujung pertemuan saya di kelas Ali bin Abi Thalib, semua keistimewaan yang terlewati berujung menjadi sebuah keberkahan. Menjadi salah satu orang yang dalam bahasa Jermannya adalah PANEN…hehe

Itulah sekilas  tentang kilas balik dari pengalaman saya menjadi guru. Tidak hanya sedih dan emosi yang mengikuti namun kesabaran yang menuai banyak hikmah banyak saya petik. Walau pernah terbesit dalam otak saya, bahwa menjadi seorang guru di jaman milineal sangat berbeda tipis pekerjaannya dengan asisten pribadi anak-anak, karena terkadang guru menjadi sasaran The Power of Emak-Emak menyangkut anaknya jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan mereka. Namun dengan melihat perubahan dan keberhasilan bahkan prestasi anak didik saya adalah suatu kebanggan tersendiri.

Itulah beberapa suka duka menjadi guru yang ingin di rindukan. Mengajarlah dengan penuh kasih sayang, bukan fokus pada target materi namun fokuslah pada pembentukan karakter anak. Karena guru kelas satu adalah kunci keberhasilan anak di kelas selanjutnya. Tetap semangat mencetak generasi milineal yang berakrakter dan saya bangga menjadi seorang guru.

(Visited 167 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *