Diajak ke Taman

Capainya perjalanan tak kuhiraukan. Lelahnya badan seolah tak terasa. Kala kedua anakku yang menggemaskan itu minta jalan. Aku jalan juga. Padahal mungkin yang minta jalan sebenarnya itu uminya, haha.

Tak apalah. Senangnya aku juga toh yang meraskan. Perkara capai itu hanyalah badan, sekumpulan atom yang lelah dipakai seharian. Dan bukan perkara yang berat juga menjalaninya. Tidak perlu uang ratusan ribu apalagi jutaan. Mereka hanya minta keluar. Kemana pun itu.

Kali ini mereka minta diantar ke sebuah taman. Aku sendiri belum menyadari taman mana yang di maksud. Tapi saat di jalan aku tanya ulang. Dan biar gak kesasar ke mana-mana. Aku liat peta nama taman itu. Taman Dadap Merah. Saat kuliat titik koordinat di peta. Aku langsung bilang istri. Itu sih biasa aku lewatin. Biasanya di sana ramai untuk shooting. Entah sinetron, FTV atau apa. Gak pernah kepo aku untuk nanya langsung.

Jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Tak perlu peta lagi juga untuk ke sana. Karena dari imajinasi saja sudah tau jalan terdekatnya.

Setibanya di taman itu, aku surprise juga. Ternyata tamannya termasuk luas. Dulu saat aku lewat hanya tau ramainya shooting dari luar aja.

Kami duduk-duduk sebentar di ayunan. Istriku sambil ngasih makan anak-anak. Sambil foto-foto juga. Itu termasuk salah satu kegemarannya. Mungkin kegemaran yang sama dengan pembaca juga.

Sebenarnya agak terlalu sore kami ke sana. Karena sepertinya magrib akan segera tiba. Jadi setelah dirasa cukup merasakan suasana tamannya. Kami pun pulang ke rumah. Tentu dengan rasa senangnya.

(Visited 62 times, 1 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *