Jum’atan Lagi di Mesjid, Mulai PSBB Transisi

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Seperti biasa hari ini saya berangkat. Mencari sesuap nasi sebongkah berlian orang bilang. Menjelang Jumatan.

Saat keluar rumah, saya lewati tetangga yang kemarin titip pesan ke istri buat saya. Ada info freelance yang lumayan – – begitu pesannya.

Saya pun mampir dulu.

“Katanya ada info bagus Bang?” Begitu bertemu saya langsung bertanya.

“Iya nih, saya kayaknya sulit jalanin, soalnya kerjaan saya di rumah. Mungkin Mas Asep bisa. Kerjaanya wawancara orang, dan…” Panjang lebar ia jelaskan sambil memperlihatkan contoh aplikasinya.

“Ok siappp, saya akan coba download aplikasinya, sepertinya tidak sulit dijalani. Masukan saja email saya di aplikasi, biar saya diundang sebagai referensi Abang. Makasih ya” Kurang lebih begitu percakapan kami.

Kalau ada pembaca yang tertarik freelance itu, silahkan hubungi saya di: 0813 1199 7715, sebutkan emailnya, dan saya akan kirim undangannya supaya masuk sebagai referensi saya.

Saya pun melanjutkan perjalanan. Saat mau keluar jalan raya, orang-orang berpeci dan membawa sajadah mulai terlihat di jalan. Saya tanya salah satu. Apa jumatan sudah bisa di Mesjid. Ternyata betul, tapi harus pakai masker dan bawa sajadah sendiri.

Tadinya saya mau langsung ke Mesjid, toh sajadah pun selalu ada di tas. Saat itu pun masker sedang saya pakai.

Tapi tiba-tiba terlintas di pikiran anak saya. Sudah lama juga ia tidak juma’atan. Kenapa tidak sekalian diajak, tentu ia akan senang.

Saya pun kembali ke rumah. Langsung saya minta anak pakai baju koko, peci, bawa sajadah dan pakai masker. Saya pun mengganti ikut ganti baju. Selesai persiapan kami pun berangkat dengan bawa motor.

Sesampainya di depan Masjid Jami’ Nurul Huda Lenteng Agung, kami diberhentikan petugas.

“Pak maaf, anaknya gak boleh ikut. Tadi juga ada yang bawa anak kami minta antarkan ke rumah lagi” Begitu kata petugas yang jaga.

“Oh begitu, baik Pak”. Saya pun gak banyak tanya lagi langsung mutar balik, antarkan anak dulu ke rumah – – anak saya umur 5,8 tahun. Motor pun saya tinggalkan di rumah, biar sekalian olah raga jalan kaki ke Mesjid.

Di Mesjid sudah ramai jamaah berdatangan. Di halaman banyak penjaga mengatur yang datang. Pintu yang biasanya terbuka lebar dan bisa masuk kendaraan ditutup. Yang dibuka hanya yang bisa lewat orang. Tersedia meja dengan handsanitizer di atasnya.

Saya pun ikut memakai handsanitizer itu. Lantas berjalan ke arah tempat wudhu. Lantai atas tempat imam sepertinya sudah penuh. Petugas mengarahkan kami di lantai bawah. Itu pun sudah hampir penuh.

Bisa dimengerti, karena di dalam ternyata harus berjarak 1 meter, mungkin lebih. Tanpa jarak pun, sewaktu normal dulu Mesjid itu selalu penuh. Apalagi kini yang harus ada jarak. Berarti kapasitas yang bisa diisi setengah dari biasanya.

Semua jamaah memakai masker. Dan sebagian besar membawa sejadah sendiri. Tidak terdapat Karpet lagi di dalam. Hal yang ditemukan hampir di semua Mesjid di Jakarta. Mungkin di kota-kota lain juga.

Selesai jumatan saya pulang agak akhir. Terlihat di luar beberapa jamaah dan petugas masjid berfoto bersama – – dengan sekelompok orang berseragam loreng orange. Saya tidak perhatikan dari ormas mana. Yang pasti setelah itu saya pun pulang dengan perasaan baru.

Semoga kehidupan akan berjalan normal kembali. Atau bahkan lebih baik dari sebelum Corona, Covid-19 ini datang. Aamiiin.

(Visited 18 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *