Kenikmatan Abadi

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Saat kita makan. Dengan kondisi perut kosong. Setelah bekerja fisik dengan keras. Dengan makanan yang lezat. Bagaimana rasanya? Nikmat. Atau sangat nikmat, atau nikmat sekali. Bagaimana setelah 6 jam? Lapar lagi. Kalau ada makanan, makan lagi. Kalau tidak ada makanan? Harus mencari uang lagi untuk membelinya. Harus bekerja lagi.

Jadi kenikmatan makanan itu dirasakan sepanjang waktu? Tidak.

Lain waktu kita ingin beli HP. Di tabungan hanya ada uang 500 ribu. Harga HP incaran 2 juta. Gaji 5 juta. Biaya hidup 4,5 juta, sisa yang di tabung 500 ribu. Jadi baru bisa beli HP impian harus nunggu 3 bulan lagi.

Setelah sabar nunggu 3 bulan, jadi beli HPnya? Jadi. Senang? Senang Sekali. Berapa lama senang sekalinya? Dari mulai membayar HP di toko, sampai 1 jam kemudian. Setelah 1 jam sampai 6 jam kemudian bagaimana rasanya? Senang. Bisa mencoba fitur-fitur baru. Pakai banget senangnya? Tidak. Senang saja.

Bagaimana rasanya setelah 1 hari? 1 minggu? 1 bulan kemudian? Biasa saja. Jadi untuk mencapai rasa senang sekali, atau senang aja itu sampai harus menunggu 3 bulan? Dan setelah lewat 1 hari kesenangan itu hilang? Iya. Jadi abadikah kesenangan beli HP itu? Tidak

Bagaimana pula rasanya kalau HP itu tidak terbeli? Misal karena tabungannya tidak kumpul-kumpul? Kecewa. Atau bagaimana rasanya setelah 1 hari beli HP impian itu, tiba-tiba HPnya hilang dicuri orang? Sedih. Pakai banget. Bahkan mungkin depresi.

Ternyata realitanya. Kenikmatan atas dunia itu tak ada yang abadi. Bisa muncul, bisa menghilang. Bisa didapatkan, bisa juga tidak. Mau menikah, mau punya baju, mau punya anak, mau jadi pejabat, mau jadi PNS, mau kaya, mau dihormati orang, mau jadi pengusaha, dan banyak sekali kemauan kita. Bisa mudah, tapi keseringan sangat sulit kita mencapainya. Dan setelah mendapatkan, rasa nikmat itu hanya sesaat saja. Atau bahkan setelahnya kita ditimpa sengsara.

Jadi adakah kenikmatan yang abadi itu? Sepanjang kenikmatan ditujukan untuk kepuasan nafsu pribadi. Sepertinya tidak ada yang namanya kenikmatan abadi itu, semua semu belaka. Tapi mungkin saja ada.

Jika kita arahkan kenikmatan itu untuk Yang Maha Abadi. Kebersamaan denganNYA, kenikmatan ibadah padaNYA, pengetahuan atasNYA. Saat makan, bersyukur atas rizki yang diberikanNYA. Setelah makan, bekerja lagi disertai niat ibadah untukNYA. Saat berdiri, duduk, berbaring, berjalan dan segala aktifitas, hati selalu menghadirkanNYA. Berusaha untuk selalu mendapat ridhoNYA. Tak ada terlintas untuk berfikir di luar kehendakNYA, apalagi menyekutukanNYA. Di akhirat pun ternyata surga menyambut dengan senangnya.

Jadi ada kemungkinan mendapat kenikmatan abadi itu? Iya, kemungkinan itu ada. Tapi mungkin hanya segelintir manusia yang bisa mendapatkannya. Sebagian lagi, atau kebanyakan, mungkin mendapatkan sekali-sekali saja. Itu saja sudah alhamdulillah. Lantas kita? Adakah keinginan untuk mendapatkan kenikmatan abadi itu? Semoga saja Allah memudahkan jalannya. Aamiiin.

(Visited 46 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *