MALAM MENCEKAM SEHARI SEBELUM AKREDITASI ( Versi Budi)

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebuah cerita dari gedung jingga, gedung sekolah SDIT Bina Lestari, sekolah dasar islam terpadu yang memiliki bentuk bangunan persegi yang hampir sempurna ini menyimpan banyak cerita di dalamnya, tak luput juga cerita yang mencekam. Meski lokasi bangunannya yang berada di ujung pojok komplek perumahan , namun akses untuk mencapainya tidak begitu sulit. Kenapa saya katakan demikian, setelah saya melakukan penelitian dan observasi terhadap salah satu karyawan tata usaha yang bernama Fifi Alfiah, S.T yang juga rekan saya, ternyata dia  sering melakukan Delevery Order ( DO) makanan yang jaraknya ratusan meter , ternyata abang-abangnya  bisa sampai 15 -30 Menitan ke sekolah SDIT Bina Lestari tanpa tersesat, itu menunjukkan bahwa lokasi SDIT Bina Lestari itu memang mudah untuk diakses. Sekolah ini bisa dikatakan masih berusia muda karena pada waktu itu usianya belum genap  6 tahun, dan saat itu juga sekolah kami belum meluluskan angkatan pertama dan dalam persiapan pelaksanaan akreditasi. Akreditasi disini adalah program pemerintah yang dilaksanakan untuk memberikan pengakuan kelayakan suatu lembaga sekolah dan keberhasilan sekolah dalam melaksanakan proses pendidikan.

Hari itu kita adalah tim, tim yang dibentuk secara kilat dan dadakan oleh kepala Sekolah dimana tim disini harus siap dan menerima  untuk memenuhi komponen delapan standar akreditasi yang diumum kurang lebih 10 hari sebelum Assesor Provinsi datang ke sekolah. pada saat itu kita dalam keadaan ketidaksiapan dan penuh dengan keraguan, karena mengingat sekolah baru pertama kalinya melakukan akreditasi serta waktu yang diberikan relative singkat,  itu semua membuat kami shock dan sesak nafas bagai seorang yang terjebak di dalam lemari terkunci. Namun kita tetap harus bergerak untuk membuat dan mengumpulkan data, suasana saat itu seperti golongan muda yang terburu-buru menyiapkan Proklamasi kemerdekaan bedanya disini tidak ada penculikan golongan tua, sering diadakannya rapat guna untuk membahas persiapan akreditasi. Sejak itu juga kita sering pulang malam, sejak itu juga kita sering bermalam di sekolah guna menyiapkan seluruh komponen akreditasi.  Dan sampailah di malam satu hari sebelum akreditasi dimana kita semua bermalam di sekolah. Kala itu kita sudah sampai pada titik dimana setiap anggota tim menunjukkan karakter diri masing –masing , adanya perselisihan , konflik dan ungkapan menyerah bahkan momen berebut printer tidak terelakkan. Ditambah suasana sekolah dimalam hari dengan penerangan yang minim menambah suasana menjadi tambah mencekam, koridor kelas yang seperti koridor rumah sakit menciptakan atmosfer horror sehingga guru perempuan tidak berani pergi ketoilet sendirian. Tak lupa suara-suara menggangngu sesekali terdengar seperti burung gagak yang mengitari sekolah , speaker yang belum dimatikan dan suara jangkrik yang berbunyi silih berganti seakan –akan mengingatkan agar kita segera menyelesaikan pekerjaan kita. Tak jarang terlintas dibenak saya dengan suasana malam sekolah bahwa kita sedang diawasi oleh mahluk lain.

 Waktu sudah lewat jam tengah malam dan berkas komponen saya belum rapi , saya tetap bergerak bekerja dengan keadaan mata yang berat , kopi adalah satu –satunya obat pelawan kantuk. Dan pada saat itulah Ada kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan , saya berencana ingin pergi ke ruang akreditasi yang tempatnya berada di lantai dua gedung yang bersebarangan  dengan tempat saya mengeprint, untuk mengambil berkas disana, saya bergegas melangkahkan kaki saya melewati lapangan yang gelap, namun sampai pembatas anak tangga yang pertama saya menghentikan langkah kaki saya, saya benar-benar terdiam, mengernyitkan dahi, bola mata saya terpaku pada satu arah, arah menuju ujung sudut tangga yang gelap, seketika kaki saya kaku , keringat bercucuran, melihat dua sesosok mahluk berbadan tinggi besar dengan mata menyala berdiri disana. Seketika saya menyebut “ Astaufirullah “. Rasanya 5 menit lama sekali berlalu dan dua mahluk tadi masih berdiri disana tak ada pilihan lain selain berlari meski kaki ini berat dan lemas, namun ketika membalikkan badan kedua mahluk tersebut menghampiri saya dengan suara pelan dan berdesah, “ Mau kemana pak Bud ?” , sontak saya kaget ternyata kedua mahluk itu adalah rekan saya. Bukan lain  Yang tinggi Mis Eri dan yang besar Mis Rahma. Dalam hati ku berkata untung tadi saya gak pingsan kalau enggak saya malu setengah mati.

Saya tetap bergegas menaiki tangga dan masuk keruang akreditasi, yang saya lakukan disana bukannya mencari berkas namun malah tertawa terpingkal-pingkal tersipu malu. “ dalam hati kayak hantu beneran sih. Mungkin ini cerita terseram dan terlucu sekaligus menjadi satu bagi saya. Lanjut cerita, tepat jam 03.30 WIB pagi semua standar sudah siap dan kita punya waktu tidur satu jam sampai acara besok penyambutan assessor, Jika usaha sudah kita lakukan maka biarkanlah kekuatan doa yang bekerja.

Dari hari pertama mendengar kabar akan adanya akreditasi sampai hari pelaksanaan abnyak yang dapat saya ambil, tampa sadar saya merasa seperti sedang bersama keluarga, merasakan kehangatan ditengah –tengah tim, ketidaksiapan mengajarkan kita agar menyiapkan segala sesuatu bahkan amal untuk bekal kehidupan nanti. Serta dari segala yang telah dilakukan, dikerjakan kita tau bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Satu bulan telah berlalu dan kini kita sudah mendapatkan kabar dari provinsi bahwa akreditasi untuk sekolah SDIT Bina Lestari mendapatkan nilai A , Sudah pasti hati ini merasa senang, gembira dan terharu. Kini giliran kita bagaimana menjaga , merawat dan menjalankan dari hasil yang telah dicapai untuk  mengembangkannya lebih baik lagi , baik dari segi lembaga bahkan diri  ini sebagai pendidik . SEMOGA BANYAK AMAL YANG KITA DAPATKAN DARI PROFESI DAN LEMBAGA INI. “TERIMAKASIH.”

(Visited 357 times, 1 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *