Menghibur Diri dalam Ketidakpastian

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Daftar Isi

Versi Video Youtube

Versi Teks

Tiap diri sebenarnya sudah bisa menilai. Dan sudah bisa memilih pada kebenaran sesuai hati nuraninya. Walau demikian, begitu banyak sekali informasi bertebaran. Yang mempengaruhi ke mana hati akan berlabuh.

Ketidakpastian. Sepertinya hal yang membingungkan. Walau kita tak bisa menghindar darinya. Apa pun kebaikan yang ingin kita rencanakan.

Dunia ini adalah ujian. Demikian yang sering kita dengar. Yang bisa kita pegang hanyalah iman dan keyakinan. Tentang keadilan di akhirat nanti.

Itu pun tak ada yang bisa memastikan. Apakah kebaikan selama di dunia bisa memasukkan kita ke Surga, atau bertemu pemiliknya? Apakah dosa berhasil ditaubati sebelum kita meninggal nanti?

Tak ada yang benar-benar pasti. Tak ada juga Malaikat yang menunjukkan amal kebaikan kita sesungguhnya. Lebih banyak kebaikankah atau sebaliknya? Selama kita hidup di dunia?

Atau mungkin ada di antara kita yang meyempatkan diri mencatat amal itu. Walau diri sendiri pun tak tahu amal yang kita anggap baik itu diterima atau tidak?

Untuk mengingatkan diri pada tanggungjawab kehidupan, memang perlu adanya evaluasi. Misalnya tiap malam sebelum tidur mengingat kembali apa aktivitas di siang sebelumnya.

Bahkan kebaikan yang sudah dilakukan pun perlu dipertanyakan. Apakah untuk nafsu keduniaan kita saja? Atau benar hanya untuk Tuhan. Benarkah hanya karenaNYA?

Seberapa besar keyakinan kita pada Tuhan? Tuhan seperti apa yang kita imani? Kepercayaan atau agama apa yang kita yakini? Sudah terasakah keimanan dan keyakinan kita berbuah kebahagiaan?

Lantas untuk apa kebaikan kalau tidak berbuah kebahagiaan? Betapa anehnya kita melihat kedzaliman bergelimang kenikmatan.

Hanya keimanan yang bisa mengobati perasaan2 ketidakpastian seperti itu. Keimanan yang sesungguhnya. Keimanan yang sudah pada tingkat yakin seyakin-yakinnya. Sebab kalau tidak, betapa kenikmatan nafsu dunia begitu menggoda saat mengajak berbuat yang tidak semestinya.

Sebenarnya konsep Surga Dunia bisa meminimalisir ketidakpastian itu. Setidaknya itu menurutku, ya karena itu pun keinginan yang tergambar dalam ideku. Karena kita bisa merencanakan apa yang akan diperbuat nanti melalui Saraf Dunia.

Dan karena ketiadaan lagi ikatan pada kepemilikan materi. Maka kunci “lillaah” itu akan membuka belenggu, pada terhalangnya keinginan kita untuk berbahagia bersama.

Yang membuat kita seolah tidak ada kepastian. Karena keinginan dan keserakahan itu membuat sebagian di antara kita, menghalangi kebahagiaan-kebahagiaan yang lainnya.

Saat setiap jiwa bersedekah kebaikan dalam berbagai bentuknya, sehingga “lillaah” itu demikian menghunjam dalam sanubari kita.

Maka semestinya, tak ada lagi hijab untuk tiap jiwa mengenal Tuhannya. Atau Ma’rifatullah dalam istilah Agamanya. Lantas, kebahagiaan macam apalagi yang bisa lebih tinggi dari itu?

Subscribe Channel Youtube

Jika berkenan, silahkan subscribe channel youtube jurnalisme warga di sini. Terima kasih atas kebaikan teman-teman semua, semoga membawa berkah. Aamiiin

(Visited 28 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *