Cerpen: Kesadaran

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Manusiaaa…!!!! Sadaaarrrr..!!!!!,”

Keras sekali suara itu. Seolah suara guntur, menggelegar. Merobek langit malam. Di tengah teriakan bersahutan.

Ajaibnya juga, bukan hanya mengubur suara teriakan, dan gerakan tangan-tangan memukul. Suara itu turut menghentikan sebilah golok, yang hampir menyentuh leher. Sedangkan si empunya leher, masih tergeletak. Nafasnya terlihat lemah.

Tangan itu tidak kuat-kuat sangat, kelihatannya. Tapi sekali rengkuh, pemilik tangan berhasil mendudukkan pemuda yang nyaris pingsan itu. Yang membangunkan ternyata juga seorang pemuda. Perawakannya sedang, tidak pendek, tidak juga bisa dikatakan tinggi.

Yang membedakan dengan yang lain, adalah sorot matanya. Terlihat tajam, tapi tidak merendahkan. Sepintas lembut, tapi jauh dari kesan lemah. Mungkin kesan bijaksana lebih pas untuknya. Kalau tidak mau dikatakan berwibawa.

Dikeluarkannya air dari tas punggung. Lantas sedikit demi sedikit, diminumkannya ke pemuda yang sudah mulai membuka mata dihadapannya.

“Terima kasih, siapa saudara ini?” Sang korban mulai terdengar bertanya.

“Nanti kita tukar ceritanya ya. Saudara istirahat dulu, saya mau ngobrol dulu dengan teman-teman kita yang berkeliling ini.” Jawab pemuda penolong

Di saat kejadian itu. Dari mulai suara datang menggelegar, peristiwa membangunkan, sampai obrolan terakhir terjadi. Waktu serasa berhenti. Bukan karena angin berhenti bertiup, atau bulan behenti mengelilingi bumi, atom berhenti bereaksi. Suasana terdiam itu terasa, setelah memperhatikan orang-orang yang tadinya beringas. Tiba-tiba diam seperti patung.

Entah kaget mendengar gelegar suara si pemuda. Atau sadar akan diri. Atau takjub dengan keberaniannya. Bisa jadi karena ketiganya. Karena bagi kebanyakan orang, menghentikan hasrat menyiksa dari 5 orang yang kalap saja mungkin keder. Ini yang mengeroyok malah lebih dari 10 orang.

“Hei, Anda siapa, berani sekali ikut campur urusan orang?” Seolah tersadar, selesai bertanya, si pemilik golok langsung meloncat ke hadapan pemuda penolong.

“Saya……. ” (Bersambung)

(Visited 44 times, 3 visits today)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *