Musholla Atas Awan

Tulisan ini peristiwa yang sudah lewat. Saat mudik menjelang lebaran. Sesampainya di kampung, saya gak bisa langsung nulis. Entah kenapa paket data di Hp saya gak lancar.

Kembali ke judul, itu tak mengada-ngada. Sesuai foto itu suasana selesai shalat Ashar. Di sebuah musholla antara Bagbagan Pelabuhan Ratu dan Kiara Dua. Lagi nanjak-nanjaknya, sebelum perkebunan teh.

Daerah itu memang dataran tinggi. Alias pegunungan. Biasanya pagi-pagi masih bisa dilihat kabut berserakan. Orang Sunda menyebutnya halimun. Menjelang siang, saat matahari sudah muncul, halimun itu lenyap tak berbekas.

Kebetulan musholla itu teletak di pinggir jalan. Sebelah kiri. Berbatasan langsung dengan lembah. Jalan yang sudah dilewati, sebelab kirinya malah berbatasan langsung dengan jurang. Nah musholla ini, serambinya entah ditopang oleh apa. Saya gak sempat memperhatikannya.

Yang pasti, jarak tanah dengan serambi musholla itu lumayan jauh. Dan tanahnya makin kesana makin menurun. Liat saja di foto, pucuk pohon yang tinggi saja, sejajar dengan tempat kami berfoto. Jadi seolah, musholla itu melayang di angkasa.

Yang fobia ketinggian, ngeliat ke bawah pasti jantungnya mpot-mpotan. Tapi bagi yang suka, itu serasa di atas awan. Kesannya takkan terlupakan.

Tentunya pembaca, yang daerah kampungnya sama seperti saya. Merasa penasaran dengan tempat itu.

Kalau mencari langsung musholla yang terlihat seperti melayang. Itu agak sulit. Soalnya dari luar. Halamannya rata dengan jalan. Jadi lembahnya itu gak keliatan. Terhalang musholla. Baru kalau sudah masuk, terus masuk lagi ke serambinya. Kesan melayang itu akan terasa.

(Visited 20 times, 5 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *