Lebih Baik Terlambat, Daripada Tidak Sama Sekali

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Sungguh, ini adalah sesuatu yang patut jadi pelajaran. Bahwa terkadang, kita diingatkan di waktu sebelumnya. Untuk melakukan sesatu yang patut untuk dilakukan. Dan pantas memperjuangkannya.

Namun, hal lain yang terjadi di hadapan mata, sering membuat kita lupa apa yang mau dilakukan itu. Dan jika kita tidak berdamai dengan diri sendiri. Penyesalan itu demikian mengganggu. Seandainya pun itu bukan hal yang begitu penting, sesaat kita ada moment termangu.

Hari kemarin pun saya berniat melakukan apa yang kulakukan kini: Turut Mengucapan Selamat Hari Ibu.. Semoga siapa pun yang pernah memerankannya, Allah berikan para wanita mulia ini kebahagiaan. Lahir maupun bathinnya..

Tak telat-telat amat sebenarnya, walaupun tidak tepat pada waktunya. Setidaknya tahun lalu saya tidak telat mengucapkannya. Pada Ibu Sendiri dan wanita-wanita terdekat yang sudah pantas menyandangnya. Melalui ucapan langsung pada mereka. Dan melalui tulisan di website pada para Ibu yang lain, dan tidak saya kenal serta tidak saya sebut satu persatunya.

Kali ini saya tidak perlu menyampaikan betapa penting peran seorang Ibu dalam kehidupan kita. Tanpa perlu menguraikan, kita sudah begitu faham akan hal itu. Sehingga saking mulianya posisi Ibu itu. Rasulullah menyebut sampai 3x lipat harus lebih diutamakan, baru kemudian ayah kita.

Kali ini saya ingin menyampaikan sebuah hikmah dari kata terlambat itu. Bisa jadi, terlambatnya saya hari kemarin mengucapkan itu. Untuk agar menyadari apa pelajaran hidup, yang mau saya sampaikan saat ini.

Bahwa, kata terlambat itu sering terjadi dalam kehidupan kita. Baik sengaja, maupun tanpa kita menginginkannya. Satu hal yang harus kita ingat, dan pantas untuk digarisbawahi. “Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali”.

Pernahkah kita punya dosa pada sesama? Tentu bagi yang menyadari, hampir bisa dikatakan pasti kita pernah melakukannya. Karena manusia sudah dibekali bahan napsu untuk tergelincir di hal yang satu itu. Kecuali Nabi tentunya, yang Allah telah menjaganya, supaya menjadi contoh yang baik bagi umatnya.

Hanya saja, kita manusia, ada yang segera sadar akan kekhilafannya. Kemudian segera meminta maaf pada orang yang sudah disakitinya. Namun banyak pula, yang tidak peduli dengan hal yang satu itu. Bisa jadi karena tidak ada yang mengajarkannya, bisa juga karena memang kesombongan demikian mengakar dalam dirinya.

Padahal sudah jelas keterangan menyebutkan. Masih lebih mudah Allah mengampuni dosa hamba, saat lalai ibadah yang berhubungan langsung denganNYA. Dibanding seseorang yang punya dosa langsung pada sesama. Kemudian yang disakiti belum memaafkan kesalahannya itu.

Maka, alangkah menyesal orang yang belum termaafkan, jika sampai meninggal tidak juga bermaaf-maafan. Sehingga sebenarnya pintu rahmat Tuhan di akhirat sudah di hadapan, karena dosa pada sesama itu membuat kesalahan kita menjadi batu sandungan.

Maka pesan ini akan kuulangi. Lebih baik terlambat minta maaf, daripada tidak sama sekali.

Contoh di atas adalah terkait hubungan dengan sesama. Coba kita renungi apa yang terjadi pada pada kehidupan kita. Apakah di masa yang lewat kita lalai menimba ilmu dan mengungkap hakikat jati diri. Jika ia, tak ada salahnya mulai hari ini kita belajar kembali, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Apakah di masa lalu kita tak peduli pada bangsa dan negara ini? Sehingga Nusantara kerap menangis dan memanggil kita dengan menyayat hati. Mari kita singsingkan lengan baju dan tekad dalam jiwa ini, Gaungkan:

Kami siap berjuang untukmu Ibu Pertiwi. Kami taubat atas kesalahan yang sudah lewat, dan kini waktunya kami membuktikan, untuk membaktikan diri padamu negeri. Lillaah, sebagaimana petunjuk dari Ilahi

❤️

“Selamat Hari Ibu”

😘😍🥰

(Visited 12 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.