Mahalnya Disiplin dalam Memerangi Corona

Disiplin demikian mahalnya.

Saat ini. Saat kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan, amat sangat diperlukan untuk berperang. Bukan berperang menghadapi penjajah, seperti masa kemerdekaan dulu. Tapi berperang untuk kehidupan. Berperang untuk melawan Corona.

Mari kita urai makna kedisiplinan itu seperti apa. Disiplin menurut KBBI artinya: 1 tata tertib (di sekolah, kemiliteran, dan sebagainya); 2 ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya); 3 bidang studi yang memiliki objek, sistem, dan metode tertentu;

— ilmiah1 cara pendekatan yang mengikuti ketentuan yang pasti dan konsisten untuk memperoleh pengertian dasar yang menjadi sasaran studi; 2 cabang ilmu;

— nasional: kondisi yang merupakan perwujudan sikap mental dan perilaku suatu bangsa ditinjau dari aspek kepatuhan dan ketaatan terhadap ketentuan peraturan dan hukum yang berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;

Dalam kaitannya dengan perang melawan Corona, berarti kekonsistenan kita untuk menjalankan tatacara melawannya. Apa hal yang mendasar untuk melakukan itu? Diantaranya: Memakai masker, sedia selalu handsanitizer (dan menggunakannya untuk mencuci tangan saat memegang benda yang sering digunakan bersama), sepulang bepergian cuci tangan dengan air mengalir dan sabun — kalau bisa mandi sekalian, jaga jarak dan menghindari kerumunan.

Sesimpel itu. Tapi itu sangat berpengaruh pada pencegahan Covid-19 ini. Karena virus ini ditularkan dari orang ke orang. Melaui cairan droplet yang tersembur dari mulut penderita, atau melalui tangan karena memegangnya.

Kembali pada kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan itu. Banyak dari kita mengetahui tatacaranya. Media pun tak kurang gencarnya menginformasikan. Masyarakat pun di awal rasa takut melakukan pencegahan itu. Tapi seiring waktu perilaku itu banyak yang melanggarnya.

Bukan karena vaksin sudah ditemukan. Bukan karena obatnya sudah ada. Bukan karena korban sudah tak ada lagi. Tapi semata karena kurangnya kedisiplinan itu. Kurangnya kesadaran yang kontinue akan bahaya pandemi ini. Karena merasa diri saat ini sehat-sehat saja.

Bisa jadi bayangan rasa sakit saat terkena itu sudah hilang. Atau sekali-kali saja kesadaran itu ada. Lupa bagaimana kalau ia membawa penyakit itu ke rumah — lantas sekeluarga ikut tertular.

Padahal pernah pula mungkin membaca, atau melihat video, bagaimana penderita demikian tersiksanya saat virus itu menggerogoti paru-paru. Saat sulitnya oksigen dihirup. Saat sekarat di pembaringan, dan meninggal dalam kesakitan teramat sangat. Tanpa ada keluarga yang mendampingi — saat korban dirawat di rumah sakit. Dikubur pun dengan cara yang tak biasanya. Dengan pelayat atau yang datang ke pemakaman dibatasi jumlahnya.

Mari kita kembalikan kesadaran itu. Tumbuhkan lagi kedisiplinan itu. Untuk kehidupan kita. Untuk kebahagiaan kita, keluarga kita, bangsa kita dan kemanusiaan kita.

(Visited 16 times, 1 visits today)
Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *