Sebuah Kesimpulan yang Menuntun Perjalanan

Bagikan tulisan dengan klik ikon di bawah ini:

Sebenarnya hanya butuh satu “kesimpulan”. Untuk memaknai segala sesuatu. Tentunya itu menurutku. Dengan sudut pandang dan latar belakang kehidupanku. Mungkin beda denganmu.

Dengan “kesimpulan” itu. Siapa pun yang menyadarinya. Seolah tak ingin apa-apa lagi. Kalaulah bukan karena terus diberi kehidupan. Tak ada lagi rasanya yang ingin dicari. Apalagi membuktikan apa yang diyakini itu.

Namun herannya. Justru saat tidak ada ingin apa-apa lagi. Kenapa muncul ide-ide itu? Yang mengharuskan untuk bongkar semua memori. Guna mencari cara terbaik bagaimana mewujudkan konsep itu.

Dua hal yang bertentangan. Antara sudah tak mau ngapa-ngapain lagi di satu sisi. Dengan keinginan mewujudkan sebuah konsep yang penuh liku di sisi lain.

Dulu, rasanya cukup bagiku mengutarakan “kesimpulan” itu pada seseorang yang tepat untuk bertukar cerita. Namun Tuhan sepertinya punya rencana lain. Kesempatan itu tak pernah datang.

Yang pada akhirnya justru ide-ide itu yang datang. Dan ternyata dengan itu aku baru tahu hikmahnya. Kenapa rasa penasaran di hati untuk mengungkap “kesimpulan” itu belum juga kesampaian. Ternyata, itu supaya aku bertekad menyampaikan itu ke semua orang.

Sebuah tekad, agar semua yang berkesadaran mengetahuinya. Agar semua makhluk bisa berbahagia bersama. Setidaknya saat mau “berpulang” nanti, ada progres yang memperlihatkan di ujung lakon dunia nanti mimpi itu akan terjadi. Walau secara fisik tubuhku kini, mungkin tak mengalaminya.

Jika tidak ada kesempatan untuk membuka “kesimpulan” itu kepada semua. Mending tak usah sama sekali. Biar aku dengan Tuhanku saja yang tahu. Sebagai puncak dari segala rasaku.

Dan kesempatan itu baru akan kulakukan, saat Ide pertama: Surga Dunia itu sudah terwujud. Dan “kesimpulan” itu baru diungkapkan saat mewujudkan Ide yang ke-2: Ma’rifatullaah Jiwa-jiwa Sedunia.

Karena apalah guna hal semacam itu disampaikan sekarang. Saat banyak perut orang keroncongan. Sambil menebak apakah besok bisa makan atau tidak. Atau bahkan ada yang menebak, esokkah ajal itu datang oleh sebab lapar sudah tak lagi tertahan?

Atau kalau tidak masalah perut. Orang disibukkan dengan menilai kesalahan keyakinan lain, mazhab lain, kelompok lain. Saling berkoar saling hina untuk memperebutkan Tuhan. Yang bahkan Tuhan sendiri pun tak suka dengan cara seperti itu.

Bagaimana bisa sebuah “kesimpulan” yang bagiku “begitu sangat tak ternilai dengan apa pun”. Disampaikan pada masyarakat yang sedang sibuk dengan egonya. Hanya saat Surga Dunia terwujud kesempatan itu ada. Saat tiap jiwa di dunia tak lagi butuh materi, tapi begitu rindu dengan Tuhannya.

Kamu penasaran apa “kesimpulan” itu? Mari bantu aku untuk mewujudkan Ide Surga Dunia terlebih dahulu.

(Visited 30 times, 1 visits today)
Asep Ma'mun Muhaemin

Asep Ma'mun Muhaemin

Saya membuat situs jurnalismewarga.net ini dengan 1 visi 1 misi : Persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.